
Sumber foto: www.gaiaonline.com
Dalam keheningan malam, kesunyian merambat masuk ke jantungku. Tetesan air hujan masih terdengar dengan jelas dari dalam kamarku. Dinginnya malam setelah hujan yang begitu deras hampir sepanjang sore ini begitu menusuk tulangku. Hingga aku tak sanggup mandi hari ini. Pikiranku masih diselimuti pertanyaan-pertanyaan yang hingga kini belum bisa terjawab, terlalu banyak beban yang harus kupikul . Begitu banyak filosofi-filosofi rumit yang harus kucerna. Terlalu munafik untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja detik ini. Persetan dengan kenangan, persetan dengan tangisan dan persetan dengan kehancuranku.
Aku bertemu dengannya di sebuah Universitas terkemuka di Jakarta, ketika itu sedang diadakan pertunjukan musik. Aku mengenalnya dari seorang teman kampu. Sebut saja dia Tamara, entah berapa lama kami berbicara, namun yang pasti Aku merasa begitu nyaman berbicara dengannya. Tanpa kami sadari ternyata pertunjukan musik itu telah berlalu begitu cepatnya, ini di luar maksudku, seharusnya aku menikmati pertunjukan musik itu, namun aku malah bertemu wanita cantik dan malah hanya berbicara dengannya. Begitu lama percakapan kami hingga akhirnya tepat pada pukul sembilan malam. Akhirnya aku mengantarnya pulang kebetulan waktu itu aku membawa motor RXking kesangan adikku.
Setelah beberapi hari kami berhubungan, aku merasa semakin dekat dengannya. Tamara begitu mudah membiusku dengan perhatian-perhatiannya. Kata-katanya yang membuatku merasa selalu terbius dengan mudah. Hingga pada suatu hari, aku merasa melompat dari lantai kesembilan gedung rektorat Universitas Negeri Indonesia (UNI) pada hari Senin, tangga 2 Januari 2006 puku 12.05 WIB. Aku melihatnya dengan mata dan kepalaku sendiri, Tamara, pujaan hatiku berjalan dengan pria lain, dan yang lebih gila lagi mereka bergandengan tangan.
Pada hari-hari berikutnya aku masih tetap berhubungan dengannya, kami masih sms-an, masih sering bertemu. Setelah kejadian itu seorang teman kostku memberikan wejangan-wejangan berat, yang memiliki unsur penderitaan yang begitu mendalam.
“Kamu itu bodoh ‘Bert!,”cetus temanku itu, oh iya namaku adalah Bertrand, aku mahasiswa UNI Fakultas Sastra.
“Maksud kamu?’” tanyaku dengan penuh kebingungan.
“Begini loh temanku yang bodoh atau pura-pura bodoh. Si Tamara itu memang sudah putus sama pacarnya, namun dia ga bisa dengan mudah ngelupain mantannya itu,” jelasnya berapi-api.
“Lah, yang pentingkan dia sudah putus, itu urusanku, biar aku sendiri yang bikin dia melupakan mantannya itu, lihat saja nanti!’” timpalku tidak kalah bersemangat.
“Oke kalau begitu mau kamu, tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu berusaha agar dia bisa melupakan mantannya, sementara apa yang telah kamu lakukan itu memalukan bagi seorang lelaki!,” temanku mulai menceramahiku dengan nada yang cukup tinggi.
“Kamu melakukan hal itu tanpa sadar atau tidak sadar sama sekali? Tempo hari kamu mengantarnya ke PIM 2, hanya agar ia bsa bertemu dengan mantannya, apa itu gak tolol? Atau kamu ingin melakukan itu hanya untuk mencari simpati dia?,” ia mulai menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuatku bingung.
“Yah aku sih hanya bermaksud bahwa aku mau melakukan apa saja hanya untuk membuat Tamara tersenyum, cuma itu kok, gak ada yang lain,” jawabku spontan, tanpa berpikir sama sekali
“Serius?,” tanya temaanku lagi
“Beneran, cuma itu aja, walaupun dia akhirnya balikan sama mantannya juga ga papa, setidaknya aku pernah dekat sama dia, punya banyak kenangan indah sama dia, kadang cinta ga harus memiliki, dan yang pasti ga bisa dipaksakan men,” aku menjawab dengan penuh kayakinan, namun dibalik itu semua masih tersimpan keraguankan perasaanku sendiri. Meskipun aku bisa berkata demikian, namun ada sebagian sisi jiwa ini yang melakukan pemberontakan. Satu sisi itu terus mengatakan bahwa aku hanya akan terus menyiksa diriku terus-menerus.
“Masih ada ya manusia seperti kamu? Tapi aku sarankan sebagai temanmu, sudahlah, aku takut kalau kamu seperti itu terus, akan berbahaya bagi dirimu sendiri,” tambahnya.
“Ketika aku mencintai seseorang, aku ingin ini adalah sebuah perasaan cinta yang tulus, mencintai tanpa harus mendapatkan balasan, orang lain boleh bilang aku munafik, tapi itu yang aku rasakan,” Aku tak tahu harus berkata apa-apa lagi, dan temanku pun tersenyum lalu pergi dalam keheningan malam.
Satu bulan kemudian aku mendengar bahwa Tamara kembali menjalin cinta dengan mantannya. Entah apa yang pernah aku katakan dengan temanku dulu, tetapi benar adanya.
Perasaan yang sudah terlanjur besar ini begitu sulit ku taklukan. Aku begitu hancur, begitu hampa, begitu sakit. Ketika aku harus berjalan sendiri, dengan impian-impian kosong. Hingga pada akhirnya aku mengerti bahwa terlalu naïf di dunia ini melihat cinta seperti yang aku kira, namun aku tidak menyalahkan kalau ada manusia seperti diriku.
Ketika aku harus berjalan sendiri, tidak harus selalu melihat ke belakang, dan juga tidak “terlalu” jauh melihat ke depan, hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan. Ketika aku harus berjalan sendiri, aku harus benar-benar tahu kapan aku harus berjalan sendiri. Terima kasih untuk Tamara, mungkin ini belum waktuku mendapatkan mimpi itu. Dan aku akan selalu mengingat dirimu, tidak hanya hari kemarin, hari ini, atau lusa, namun selamanya. Dan aku tidak akan pernah menyesal pernah mencintaimu.
Depok, 14 Februari 2006, 23.40 WIB

Sumber foto: www.craigmod.com
untuk satu embun yang tidak akan pernah mengering dihantam terik
untuk satu panas yang tak pernah mau luluh oleh dinginnya kutub
untuk satu kata yang tak mau hilang menggambarkan indahnya hatimu
untuk satu cinta yang tak akan pernah hilang dari senyummu
untuk satu ayu, yang memang begitu indah di atas semua keajaiban yang pernah ada
Depok, 24 Agustus 2008, 23.55 WIB
Ketika Aku Berjalan sendiri
Catatan Awal Seorang Buruh Tinta

Akhirnya, setelah sekian lama berjuang dengan studi yang melelahkan, aku kini telah terdampar di pantai penuh tinta yang gelap dan berliku. Huh, semuanya hampir tak terpikirkan. Merambat pelan, seperti keong yang memanggul cangkang di pundaknya.
Mudah-mudahan aku akan kuat menghadapi teriknya matahari berita, keringnya gurun halaman kertas, atau bahkan curamnya jurang informasi yang seakan tak mau berdamai dengan mikroba jahat.
Hah, habis sudah keringat ini. Untuk satu tujuan yang tak akan pernah usang. Kata demi kata telah tertuang dalam gumpalan malam pekat yang tak teratur. Hebusan nafas ku, berbau busuk akan cerita orang.
Satu titik mulai dilewati, koma pun hampir tak terhiraukan. Sanggupkah aku melawati fase hidup yang banyak dibilang orang adalah halaman pertama dari hidup yang sesungguhnya? Atau mungkin dari sinilah aku mulai menemukan rangkaian kata dalam paragraf hidup seorang buruh tinta.
Kelapa Gading, 20 Mei 2007, 02.00 WIB
Perempuan-perempuanku

Dirimu ada atas rusuk Adam.
Apakah karena Adam kau bisa?
Aku tak mengerti tentang perempuan.
Ia hidup di bawah bayangan.
Tanpa pernah menjadi tubuh utuh,
bahkan untuk dirinya sendiri.
Perempuan-perempuanku.
Yang selalu hidup tersisihkan.
Yang selalu dipandang sebelah mata.
Yang selalu menjadi penduduk kelas dua.
Yang selalu hadir untuk dipimpin.
Perempuan-perempuanku.
Aku memandangmu lebih megah dari gunung.
Aku memandangmu labih luas dari lautan.
Aku memandangmu lebih kuat dari gedung-gedung pencakar langit pun
Aku memandangmu lebih cantik dari surga.
Perempuan-perempuanku.
Dari ibu sampai abu.
Dari air mata hingga suka.
Dari surga sampai neraka.
Dari tinta hingga jelaga.
Ya, benar.
Aku memang memujamu.
Depok 5 Oktober 2006.
Pertarungan Hidup

“Pekerjaan memang tidak pernah ada habisnya, sampai matipun kamu tidak akan lepas dari pekerjaan itu. Kecuali kamu sendiri yang mampu mengatur mana pekerjaan dan mana sisi lain dari kehidupanmu!” Celoteh seorang sahabat ketika mendengar keluhanku akibat pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini. Ada benarnya juga dia berkata seperti itu, namun aku kembali menerawang dalam lamunanku, “pernah kah aku bepikir sampai kapan batas sebuah pekerjaan selesai atau tidak?” tanyaku dalam hati.
Setiap sisi kehidupan memang memiliki kesibukannya sendiri-sendiri, tukang sapu di jalan pun cukup sibuk dengan pekerjaannya, bahkan mungkin dia mengambil “side job” sebagai pedagang asongan. Bahkan untuk ukuran anak SD pun memiliki kesibukannya sendiri, pulang sekolah ia harus makan, tidur siang, bersosialisasi dengan teman seusianya, hingga sebelum tidur pun ia harus mengerjakan tugas-tugas sekolah. Itu belum ditambah tugas-tugas bagi mereka yang mengikuti les di luar sekolah.
Hingga saat ini pun, sebagai seorang karyawan di salah satu media agency di Ibukota, saya belum memiliki parameter apa sebuah profesi dikatakan begitu sibuk, atau mungkin paling sibuk. Apakah dengan kapasitas pekerjaan yang tinggi? Frekuensi tugas-tugas maupun pekerjaan yang begitu cepat. Atau kualitas pekerjaan yang memerlukan kinerja berpikir lebih berat.
“Duh, di pekerjaan yang baru ini, meski sangat menantang, namun cukup berat sekali,” keluh seorang teman suatu hari di saat istirahat makan siang. “Yah udahlah resign ajah, pusing amat mikirnya, kalau ga sanggup resign ajah, jangan maksain, hasilnya malah ga bagus buat kinerja perusahaan, dan diri kamu sendiri,” salah satu teman yang lain langsung membalas keluhan tersebut. Hahaha, tawaku dalam hati memperhatikan percakapan mereka. Ini memang benar-benar dunia baru bagiku, mungkin temanku yang menyuruh resign itu sudah cukup bosan dengan keluhan-keluhan yang biasa ia dengarkan sesama rekan karyawan.
Bisa aku mengerti pola pikirnya, namun sepertinya bukan itu yang diinginkan temanku yang mengeluh tadi. Tampak kekecewaan terlihat dari raut wajahnya manakala langsung mendengar komentar tersebut. Tidak semua keluhan ditujukan untuk mencari simpati. Tidak semua keluhan akibat menyesali sebuah pilihan. Terkadang keluhan adalah bentuk dari ekpresi atau ungkapan seseorang tentang kondisinya saat ini, bukan untuk mencari simpati, tapi sekadar berbagi.
Banyak orang mengatakan bahwa keluhan itu malah menyebabkan sesuatu yang berbau negatif. Benar juga, dengan catatan keluhan tersebut bersifat terus-menerus dan tenggelam dalam keluhan itu sendiri. Namun ada kalanya kita melihat keluhan sebagai bentuk evaluasi diri, bentuk penyempurnaan pertarungan kehidupan. Tanpa keluhan, kita tidak tahu kapasitas diri yang terkadang terlupakan oleh keinginan atau obsesi yang tinggi.
Keluhan merupakan sisi lain dari pertarungan hidup.Seperti pertarungan pertama kali seorang jabang bayi menyentuh udara kehidupan, hingga menutup mata menemui Sang Pencipta (saya batasi pembicaraan ini dalam ruang lingkup kehidupan duniawi). Sang bayi kecil pun harus menangis manakala ia baru dilahirkan. Apakah itu keluhan? Atau kebingungan? Yang pasti ia sedang beradaptasi dan bertarung menghadapi dunia yang baru.
Ketika seorang anak gagal meraih peringkat pertama dikelasnya, dia tampak murung, menyendiri, bukankah itu sebuah keluhan juga. Keluhan hasil pertarungannya yang berat melawan cita-cita? Pertarungan itu mau tidak mau harus kita lakukan. Ketika salah seorang teman menanyakan mengenai pertarungan ini apakah kita harus menghadapinya, atau menghindarinya?
Selama kita masih bisa mengeluh, kita tidak mungkin menghindari pertarungan. Tapi apakah benar pernyataan itu. Setiap sisi kehidupan-seperti yang telah saya bilang-memiliki kesibukannya sendiri-sendiri. Pertarungan hidup merupakan bagian dari kesibukan itu, dan keluhan merupakan bagian dari pertarungan hidup itu. Semua tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kalau kamu takut mengeluh, jangan bertarung, kalau kamu takut bertarung jangan mencari kesibukan. Kalau kamu takut kesibukan diam saja, sampai ajal menyapa dan saya pikir di sana pasti akan lebih banyak kesibukan, pertarungan dan bahkan keluhan.
Bekasi, 16 Agustus 2008, 14.00 WIB
Secangkir Kopi dari Surga

Aspal hitam terus mengikis roda-roda kehidupan kota metropolitan. Membakar setiap asa yang melewatinya, mendidihkan setiap peluh yang berjatuhan hanya dalam hitungan detik. Teriakan kuda-kuda besi memekikan gendang telinga para pencari asa di pinggir-pinggir jalan. Terik, begitu kejam mengeringkan setiap air semangat yang kutelan setiap gelasnya.
Satu-satu asap hitam menyesakan aliran udara dalam paru-paru ini. Tak ada lagi tempat berteduh di tengah jalan berpasir dan berdebu ini. Setiap langkah terasa berat, dan perih. Entah apa yang membuat kota ini begitu tidak bersahabat untuk disinggahi. Aroma kebusukan semakin menyengat, tidak hanya di tempat-tempat sampah yang tidak terurus, tapi juga di gedung-gedung pemerintahan di sebelahnya.
Apa yang harus aku tulis siang ini? Pembunuhankah? Pencuriankah? Atau kasus mutilasi yang sedang “in” belakangan ini. Aku sudah muak dengan hal-hal negatif yang terus digembar-gemborkan di setiap media massa akhir-akhir ini. Tidak adakah kehidupan yang lebih indah barang sedikit pun. Tapi justru hal seperti inilah yang membuat sebuah berita begitu digemari. Benar-benar telah terjadi kekacauan dalam pikiran masyarakat.
Berita-berita sakit seperti ini ternyata membuat jumlah oplah menjadi cukup meningkat dengan signifikan. Berita-berita sakit ini menjadi pergunjingan pelbagai pihak, dari segelintir operator pompa bensin hingga beberapa bangkir papan atas yang selalu menghitung pergerakan Dollar setiap harinya. Apakah berita-berita sakit ini juga bisa merepresentasikan keadaan masyarakat yang sakit juga?
Pergulatanku dengan berita memang telah dimulai sejak duduk dibangku SMA. Kemudian saat dibangku kuliah aku terus mengembangkan minatku dengan membuat sebuah majalah kampus. Namun semua itu telah berlalu, setelah lulus dari perguruan tinggi aku memasuki dunia yang lebih liar, lebih kejam dan lebih buas. Dalam hitungan detik senyum bisa berubah menjadi amarah, dalam beberapa detik kemudian bisa menjadi amuk. Yah amuk, amuk akan kekotoran kehidupan yang baru terlihat dengan begitu nyata.
Setelah lulus kuliah, aku melamar di sebuah surat kabar harian nasional untuk menjadi seorang wartawan, atau aku dan beberapa kawan seprofesi menyebutnya buruh tinta. Tidak beberapa lama lamaranku diterima di sebuah surat kabar harian ibukota sebut saja Harian Kritis. Pertama kali ditugaskan, aku membantu sebuah rubrik yang cukup keras, yaitu kriminal dan metropolitan. Karena tugas inilah aku begitu dekat dengan dunia kriminalitas ibukota. Bahkan sebusuknya seorang pembunuh, ada yang lebih busuk lagi, yaitu mereka yang melakukan korupsi di atas tanah busuk ini. Mual jika terus menerus memikirkannya.
Kembali ke masyarakat yang sakit, jadi teringat akan dialogku dengan seorang rekan buruh tinta yang lain. Sebut saja dia dengan nama Akher, laki-laki kurus, dengan rabut belah tengah ala tahun 90-an awal, dan stelan pakaian yang berantakan. Akher, memang teman seperjuanganku baik di bangku kuliah maupun di dunia perburuhan tinta. Selalu setia dengan rokok yang tak pernah berhenti dia bakar di depan mulutnya itu.
“Masyarakat memang sedang sakit, tapi kita jangan ikut-ikutan sakit. Kita di sini hanya menyampaikan fakta yang ada, nggak perlu ditutup-tutupi, apa adanya saja, toh mereka sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah,” jelasnya saat kita berdua sedang minum kopi di warung tegal tepat di depan sebuah markas kepolisian di wilayah Jakarta Selatan.
“Dan justru berita busuk seperti ini yang saat ini sangat digemari masyarakat, bisa meningkatkan oplah kita ‘kan?,” desak Akher kepadaku. “Jadi menurutmu, kita harus menulis semua kebusukan itu mentah-mentah kepada masyarakat?,” tanyaku padanya.
“Tidak juga seperti itu, tapi kita melihat semua kenyataan tanpa ditutup-tutupi,” jelas Akher sambil menghisap asap rokok lebih dalam. “Tanpa sensor maksudmu?,” tanyaku langsung tanpa berpikir panjang. “Kita tidak bisa menutupi sebuah kebusukan kawan, apa adanya saja, aku tidak mau kebebasan pers yang semu, kalau dia salah katakan salah, kalau dia busuk yah katakan busuk, bahkan kalau istrimu selingkuh yah katakana selingkuh,” jelasnya diiringi tawa yang menyebalkan itu.
Aku berpikir sejenak, kepala ini penuh penolakan tentang semua argumen yang barusan dilontarkan dari mulut Akher bagai senapan mesin yang dalam hitungan detik telah mengeluarkan berpuluh-puluh timah panas dari moncongnya. Apakah kebebasan pers ini begitu terbuka, begitu transparan atau bahkan begitu telanjang? Tidak ada lagi kontrol sosial? Tidak ada lagi pertimbangan kebutuhan berita? Semuanya di lempar ke publik mentah-mentah begitu saja?
“Gus, kenapa diam saja? Bagaimana menurutmu tentang pendapatku tadi?,” sentak Akher membangunkanku dari pikiran-pikiran penuh keraguan ini. “Aku jadi punya pertanyaan besar dikepalaku saat ini ‘Kher, bukankah kita juga memerlukan kontrol sosial dalam setiap pemberitaan, kita harus kembali menelaah mana yang pantas maupun tidak pantas ‘kan?,” tanyaku. “Apa parameter “pantas” dan “tidak pantas” itu menurutmu ‘Gus?,” tanyanya tanpa bepikir panjang.
Benar sekali dugaanku, hingga dititik ini aku mulai ragu-ragu dengan pendapatku sendiri. “Parameter itu adalah hati nurani ‘Kher, kamu bisa membuat sebuah peristiwa begitu telanjang di depan publik, tapi coba kamu pikir, apakah kamu “memang” memiliki hati nurani untuk bisa menelanjangi setiap peristiwa yang kamu lihat?,” jawabku perlahan sambil berusaha mencari referensi baru mengenai perdebatan ini. “Kalau parameternya adalah hati nurani, tidak ada peristiwa busuk seperti ini, jangankan peristiwa ini dapat tercium oleh kita, dimulai saja belum!,” jelas Akher sambil menyeruput segelas kopi kental panas.
“Itu benar ‘Kher, jika semua berdasarkan hati nurani, tidak akan seperti tanah air kita yang tercinta ini, jika semua berdasarkan hati nurani, tidak akan ada kemaksiatan di sekitar kita, tidak ada korupsi terhadap uang rakyat. Bahkan jika kita memang masih memiliki hati nurani, kita tidak akan sampai hati melakukan wawancara kepada keluarga korban pembunuhan yang masih berkabung setelah keluarganya dibantai dalam semalam,” jawabku pelan.
Setidaknya, meski hati nurani ini mulai diabaikan kita masih berterima kasih bahwa masih ada orang-orang yang memikirkannya. “Jika satu orang saja memikirkan hati nurani ini, layaknya aku meminum secangkir kopi dari surga,” kataku kepada Akher yang kembali membakar batang rokoknya yang kelima siang ini.
Bekasi, 12 Agustus 2008, 01.00 WIB
Operet Pinggir Jalan

Duduk, menunggu sambil melepas lelah,
Tak terasa hari ini hampir berakhir,
Seluruh waktu telah hampir ku lahab hari ini,
Tinggal beberapa jam tersisa untuk kembali berjumpa dengan mimpi.
Di antara wajah kusam penumpang bis kota ini, masih tertinggal satu, dua senyuman,
Senyum hasil dialog kocak dua orang seniman jalanan,
Berusaha menyambung satu garis kehidupan,
Dengan operet pinggir jalan yang seadanya.
“Dari pada kau jadi mantuku, lebih baik kau jadi penjaga makam keluargaku,” seru seniman jalanan yang lebih tua sambil tertawa.
“Loh, kenapa ‘Beh?” jawab seniman yang lebih muda.
“Karena wajahmu lebih mengerikan dari semua isi makam keluargaku, hahaha…” Jawab seniman yang lebih tua itu.
“Yaah Babeh, masa tampang seperti Andy Lau begini disamain sama penghuni kuburan!” jawab seniman muda dengan sedikit meminta rasa iba.
Hanya sepenggal dialog jalanan,
Cukup membuat sebuah senyuman mampir di wajahku,
Cukup membuat beberapa orang di bis ini bangun dari tidurnya,
Cukup membuat perut kedua seniman itu makan untuk hari ini saja.
Bekasi, 11 Agustus 2008, 00.01. WIB
Mengeluh

Embun mulai mengering,
Hawa dingin perlahan mulai menghilangkan wujudnya,
Kerak tanah merah sudah terlihat dengan jelas,
Tapi aku masih bertarung dengan mimpi.
Kepala ini terasa berat setiap pagi,
Ada beban sebesar gunung menimpa kepala ini,
Beban yang selalu setia menemani,
Beban yang tak terasa hampir membunuhku setiap pagi,
Kembali kerutinitas yang sangat memuakan,
Dengan sejuta beban tidak dapat dicerna,
Apa sebenarnya yang aku cari?
Kenikmatan sesaat atau malah kematian sesaat?
Bosan aku dengan keluh sebenarnya,
Tapi, apakah ini takdirku untuk selalu mengeluh?
Bahkan saat tertawa pun aku sempat mengeluh,
“Tawa ini begitu kering dan menyebalkan,” keluhku.
Halim, 10 Agustus 2008, 22.00 WIB
Buta atau Bisu

Satu perjalanan baru telah dimulai
Ada senang, ada sedih
Ada patah, ada getir
Ada senyum, ada iri
Semuanya tidak ada yang beraturan
Jalan dengan sendiri-sendiri
Dia bisa pilih A, dan aku bisa pilih B
Semua terserah perutnya masing-masing
Yah, terserah, mau buta silahkan
Mau bisu silahkan,
Hidup hanya sekali,
Just do ur best…
Bekasi, 10 Agustus 2008
Tentang Bintang dan Lampu Jalan
Bintang itu terjatuh lagi,
Tapi tampaknya ia sudah mulai terbiasa.
Karena aku, hingga saat ini belum melihatnya menangis!
Aah.. mungkin ia malu kepadaku,
Atau justru dia takut kepadaku?
Atau malah, dia memang sudah tidak bisa menangis lagi?
Aku selalu memperhatikan bintang itu dari kejauhan,
Terkadang ia berlari dengan riang,
Terkadang dia kikuk dengan bintang yang lain,
Dan kadang-kadang pula ia menjauh dari bintang-bintang yang lain juga.
Kini bintang itu lebih dekat denganku,
Lebih indah,
Lebih memesona,
Lebih terang,
Dan aku seperti mau diajaknya kelangit.
Tapi, … dia tetap sebuah bintang,
Sementara aku hanya lampu jalan di tengah kota yang telah terlelap.
16.15 WIB
Boulevard, 5 November 2007
Tak Ada Salam Perpisahan
Untuk Resthiana, sahabat yang terlupakan,
Tak ada salam perpisahan,
Meski waktu begitu singkat,
(kau malah bercerita tentang sebuah dongeng yang begitu indah untuk dilukiskan)
Tak ada salam perpisahan,
Meski jarak tak lagi dekat,
(kau malah bercerita tentang ujian yang tak kunjung selesai dan memuakkan)
Tak ada salam perpisahan,
Karena cinta begitu pekat,
(meski tubuhku menggigil karena kehilangan)
Bekasi,
24 Juli 2002, 00.05 WIB
Suaraku Lebih Mahal dari Senyum Busuk Itu!

Ada rasa yang berat hari ini,
Begitu berat hingga mengucap sepatah kata pun begitu sulit.
Nafasku mulai tak beraturan,
Seluruh rongga tubuh seakan mampat oleh beban ini.
Yah, hari ini benar-benar begitu menyedihkan
Saat suara di hati harus dikeluarkan
Tapi malah terbentur oleh dinding etika dan urusan perut!
Yah, siapa yang tidak mau kenyang hari ini kan?
Tapi, apakah urusan perut dan keluarga harus menjadi tembok kebenaran?
Gila! Suara hati sudah mati,
Persetan dengan kata hati,
Ketika semua yang berlagak sok suci dibalik komersialisasi.
Sebenarnya tidak melulu komersialisasi,
Sekadar sesuap nasi dan sedikit kesejahteraan bukan?
Justru itu yang sangat murah!
Kata hati hanya seharga dengan sesuap nasi dan segelintir rupiah!
Sedihku Akan Cinta
Tertabrak mati sampai tak tersisa,
Retak tak berdetak ‘tuk terluka,
Apakah mati bisa mengobati?
Hingga diam tak bercaci?
Demi hitam yang tak mau menyatu dengan putih,
Karena kini aku harus tertatih,
Dengan kepala yang terbelah dua,
Seperti digigit ular berbisa!
Matiku akan jiwa,
Hancurku akan rasa,
Butaku akan mata,
Sedihku akan cinta,
Depok,
12 Juni 2005, 11.35 WIB
Sampai Di Sini Mimpiku Malam Ini
Berhalusinasi itu memang mudah,
Tapi begitu sulit untuk mengalkulasi,
Bermimpi itu memang begitu indah,
Tapi kenyataan tak segampang imajinasi.
Berlari kesana-kemari dengan dengan penuh asa,
Menyeka peluh dengan tawa,
Melompati setiap lubang tanpa nestapa,
Seperti kelinci yang selalu melompat tanpa mengerti kenapa dia selalu melompat!
Kini asa mulai tercemar,
Sudah tidak putih seperti beberapa waktu lalu,
Semakin kotor, seperti tubuh yang penuh luka memar,
Satu demi satu kembali menjadi jalan yang semu.
Jadi, hanya sampai di sini mimpiku malam ini,
Seperti biasa tak bertepi,
Mengambang di tengah danau yang sepi,
Tanpa menemukan satu arah pun yang pasti.
Lalu aku bertanya kepada angin,
Untuk siapa ku bawa perahu ini?
Untuk apa aku mengayuh dayung sejauh ini?
Lalu angin menjawab: “Untuk menikmati sedasi sejenak dari karya terindah yang Tuhan pernah ciptakan.”
Bekasi,
9 January 2008, 22.45 WIB
Resthi
Ah, resthi..
Cinta begitu sederhana,
Seperti rumput yang tumbuh di halaman,
Seperti pelangi yang hadir setelah hujan…
Bekasi,
24 Juli 2002, 00.10 WIB
Rasa Aneh
Hay, rasa yang aneh…
Kita berjumpa lagi, setelah kuhindari kau bertahun-tahun
Kita bercengkrama lagi, setelah kau kukubur hidup-hidup
Kita bersapa lagi, setelah kau ku asingkan ke pulau terjauh di otakku.
Kau memang rasa yang paling aneh dan menyebalkan.
Kenapa kau datang di saat aku sedang meluruskan kembali garis garis hidupku
Kupikir kamu memang benar-benar telah hilang,
Dan ha, ha, ha…kamu ternyata masih tetap ada.
Kamu ternyata bersembunyi di villi-villi ususku
Ah, bahkan sampah pun masih bisa tercium baunya dari kejauhan
Kenapa kamu tidak,
Kamu seperti penyakit akut yang tiba-tiba datang begitu saja,
Dan yang lebih mengerikan adalah, kamu mulai merusak hidupku lagi..
Rasa aneh, tak lelah kah kau menusuk ku dengan belati jorok mu itu?
Menusuk ku tepat di ulu hati lemah ini.
Menusuk tepat di jantung kehidupan ini.
Menusuk tepat di otak-otak yang sedang menyusun satu-satunya harapan indah esok hari!
Rasa aneh, aku muak dengan dirimu,
Aku lelah terus bertarung denganmu,
Tak puas kah kah kau menyakitiku?
Dengan senyum busuk itu, kau coba merayuku untuk terus terbang hingga langit ke tujuh.
Pantai Anyer,
8 march o8, Banten 3.40 am
Rantai Putus Tak Tersisa
Segenggam luka kan kubawa pergi,
Sekotak mimpi kan ku buang lagi,
Setetes senyum telah menjauhi,
Sebutir pasir kenangan pun tinggal sendiri!
Hai jiwa yang sepi,
Senyumku sebatas mimpi,
Butaku tak bertepi,
Jasadku tak terkaruniai,
Hidup ini hanya sementara,
Tak bisakah gerbangmu terbuka?
Walau hanya sedetik saja?
Walau hanya nafasmu juga?
Patahmu akan senyumku,
Getirmu akan gelakku,
Tangismu akan diamku,
Rapuhmu akan jalanku,
Mati putih tak bertanda,
Engkau dating tak bersapa,
Dengan diam menutup mata,
Kau bukan temanku selamanya!
Inikah kebenaran sejati?
Tentang persahabatan yang tak dimengerti?
Tentang kepalsuan yang begitu hina?
Tentang rantai putus tak tersisa?
Depok,
15 Juni 2005, 23.54 WIB
Pertanyaan
Adakah yang salah tentang pertanyaan hati?
Ketika rasa sudah mulai tersesat dalam sisi kehidupan,
Adakah yang salah tentang pertanyaan hidup?
Ketika hembusan nafas terengah-engah dalam menapaki kenyataan
Pertanyaan,
Selalu hadir dalam setiap dimensi ruang,
Tak peduli kaya, miskin, jenius atau idiot sekalipun,
Selalu mengikuti sang tuan seperti bayangan hitam di tanah kering.
Namun, yang harus diterjemahkan saat ini,
Apakah pertanyaan selalui ditemani oleh jawaban?
Apakah pertanyaan memang selalu melekat dengan jawaban?
Atau memang dia tidak ditakdirkan untuk selalu berdampingan?
Terkadang, pertanyaan begitu sulit untuk diungkapkan
Begitu pelik hingga harus berteriak untuk mengeluarkannya
Tapi apakah kita tidak mampu membuat sebuah pertanyaan yang sederhana?
Dengan jawaban yang juga sederhana, bahkan tanpa harus berpikir?
Bekasi, 11 Maret 2008, 9.30 am
Mimpi
Dingin pagi hampir tak ternikmati,
Senyap malam hampir selalu meluap.
…huh, siklus hidup sudah mulai berganti,
Satu periode waktu sedang dilalui,
Realita hidup pecandu mimpi semakin sunyi.
…sstt, tenangkan dirimu satu detik saja!
Lalui saja penggaris mimpimu dengan tegak!
Langkahi saja setiap kata dengan kalimat!
Dan dengan tertawa,
Kita jalani mimpi, sambil sekadar bercanda dengan Tuhan…
Boulevard,
5 November 2007, 15.10 WIB.
Malam Ini
Aku tidak bisa tidur malam ini,
Mataku memerah dan sedikit berair,
Tanganku mulai terasa lelah,
Karena terlalu banyak yang kutulis.
Kupingku pun terasa panas,
Karena terlalu lama mendengar radio yang memainkan lagu-lagu Jepang,
Yang bahkan aku tidak mengetahui sama sekali artinya.
Bekasi,
24 Juli 2002, 00.34 WIB
Kupu-kupu tak bersayap
Malam ini begitu dingin,
Begitu sunyi,
Begitu gelap,
Dan begitu melelahkan.
Berulang kali aku bangun dari tempat tidur ini,
Seperti terusik oleh dentuman meriam besar yang tidak tahu ada di mana,
Berputar-putar dalam labirin mimpi yang tak terjangkau,
Tidak hanya otak ini yang lelah, tapi perasaan ini pun lelah.
Aku seperti kupu-kupu tak bersayap,
Jauh dari keindahan yang senantiasa menemaninya,
Jauh dari kebebasan untuk terbang kemanapun ia inginkan,
Jauh dari harapan yang senantiasa membawanya bersama kelopak-kelopak bunga.
Kupu-kupu ini mulai menghitam,
Kering,
Mengigil,
Menjerit tanpa suara,
Kupu-kupu ini mulai menangis,
Untuk apa dia hidup,
Untuk apa dia terbaring di bumi,
Untuk apa dia terus menatap angkasa luas.
Apakah ia masih pantas disebut kupu-kupu,
Tanpa sayap dipundaknya,
Masih kah ada harapan untuk sekadar melihat kelopak bunga lagi?
Untuk sekadar bermain dengan asa, meski ia sadar tak ada yang mampu memberinya asa selain sayap.
Bekasi, 11 Maret 2008, 1.30 am
Ketika Aku Harus Tersenyum
Aku harus tersenyum,
Ketika semuanya meninggalkanku,
Ketika semuanya menyakitiku,
Ketika semuanya mencibirku.
Aku harus tersenyum,
Ketika aku jatuh tuk kesekian kalinya,
Ketika aku menangis untuk kesekian kalinya,
Ketika aku menderita untuk kesekian kalinya,
Ketika aku terluka untuk kesekian kalinya.
Aku harus tersenyum,
Ketika semua harus berakhir,
Ketika perpisahan jalan akhirnya,
Ketika pengorbananlah yang selalu dilakukan,
Ketika kenyataan pahit tak dapat terelakan,
Aku harus tersenyum,
Bukan karena aku sok tegar,
Bukan karena aku sok pahlawan,
Bukan karena aku ingin lari dari itu semua,
Dan bukan karena aku seorang pecundang, atau mungkin juga?
Aku harus tersenyum,
Karena hanya itu yang bisa kulakukan…
Depok,
13 Maret 2005, 22.11 WIB
Jalan Kemang
Ini hari aku melintas jalan itu lagi,
Sama sekali tidak ada yang berubah,
Gedung-gedung megah tetap berdiri dengan angkuh.
Toko-toko besar tetap menatapku dengan sinis.
Kafe-kafe cantik tetap terjaga untuk siap mengebiri para pelanggannya.
Jalan ini sering aku lalui, hampir setiap malam!
Hampir tiap garis putihnya aku hapal,
Hampir tiap trotoarnya ada luka,
Hampir tiap persimpangannya ada gelak tawa,
Dan hampir tiap lampu jalannya ada teriakan sunyi!
Apa kabar kawan lama?
Hari ini kita bertemu lagi,
Hanya kita berdua, kau yang senatiasa tak jenuh oleh hilir mudiknya kendaraan,
Dan aku yang selalu menunggu di sisi tubuhmu,
Yah, seperti dulu lagi, kau dan aku!
Aku kembali untuk sekadar menyapa,
Masih ingatkah kau kala aku terjatuh di depan toko buku itu dua tahun lalu?
23.25 WIB
Bekasi, 7 November 2007
Kata dan Tanya
Aku bertanya kepada dingin,
Apakah aku bisa memecah batu dengan kata?
Aku bertanya kepada panas,
Apakah aku bisa mematahkan besi dengan titik dan koma?
Aku bertanya kepada air,
Apakah aku bisa mengeringkan laut dengan frase?
Dan aku bertanya kepada api,
Apakah aku bisa membanjiri matahari dengan cerita?
Lalu apa yang bisa aku lakukan?
Untuk satu siklus fana hanya dengan kertas dan tinta?
Aku bingung dengan waktu,
Aku bingung dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar,
Aku bingung dengan jawaban-jawaban klise,
Dan, aku bingung untuk apa aku bertanya!
Boulevard,
6 November 2007, 15.45 WIB
Hujan di Luar Jendela
Hujan di luar jendela,
Aku pernah membuat sebuah cerita pendek dengan kalimat di atas.
Aah…
Malas aku membahasnya,
Semua sudah hilang,
Hanya membuang energi saja memikirkannya,
Sia-sia belaka!
Sekarang, tidak ada lagi hujan di luar jendela!
Yang ada hanya hujan di wajahnya,
Yang tak mau berganti dengan kemarau..
Bekasi,
5 November 2007, 23.35 WIB.
Hanya Sebentar Di Sini
Hanya sebentar di sini,
Melihat apa yang pernah terjadi,
Lalu sedikit mengingat waktu itu,
Kemudian pergi lagi dari sini,
Hanya sebentar di sini,
Merasakan apa yang dulu telah dilakukan,
Mengulang kata demi kata yang pernah terucapkan,
Lalu menghapus kembali hingga tak berbekas,
Hanya sebentar di sini,
Mencari kembali apa yang dulu pernah terpecah,
Menyusun lagi lembar demi lembar kisah yang sempat tertulis,
Lalu melipatnya lagi sampai rapih di rak paling dalam,
Hanya sebentar di sini,
Menertawai apa yang waktu itu begitu indah,
Mendirikan kembali rumah-rumah tua yang sempat begitu nyaman didiami,
Lalu merobohkannya kembali, karena memang sudah tidak ada penghuninya,
Hanya sebentar di sini,
Kembali tersenyum sejenak,
Kembali memeluk sebentar,
Kembali bersandar sedetik,
Lalu berlari lagi.
Bekasi, November 2007
Dongeng Tentang Kota
Kota ini belum berubah,
Keheningannya tetap saja menghantui,
Bisingnya pun masih tetap menenangkan.
Sudah lama aku tak menginjakkan kaki di sini,
Guratan cerita lama kembali hadir,
Aah.., kisah itu seharusnya sudah mati ditelan kota tua ini!
Dan seharusnya juga parau teriakan kenangan itu lenyap tertimpa bangunan-bangunan baru!
Tapi, saat ini aku benar-benar menikmatinya dinginnya dinding kota,
Aku begitu terlelap dalam baris usang sudut-sudut kota,
Dan benar saja aku tak bisa lepas barang sedikit pun dari dongeng tentang kota
Bandung, 7 November 2007
Bait Terakhir dalam Mimpi
Aku larut dalam kantuk,
Melihat malam dalam kekosongan,
Hening, senyap, seperti garis lurus tak putus
Entah merenung atau melamun di pojok dunia.
Berpikir untuk merajut hidup ternyata tidak gampang,
Asa terus bersalaman dengan peluh tanpa tujuan,
Hanya berputar dalam lingkaran tak berbentuk,
Berteriak tanpa suara di tengah sabana bintang-bintang.
Ini saatnya aku meletakkan jejak pada bayang cakrawala,
Menyambung satu demi satu titik tanpa koma,
Membariskan serpihan kata yang seakan bertautan,
Untuk sekadar mendapatkan kesenangan atau malah kegundahan?
Haruskah aku mendirikan menara dari pasir?
Haruskah aku merentangkan jembatan dari pohon-pohon yang telah bertumbangan?
Ah, aku tidak yakin akan persepsi-persepsi indah di depan,
Lalu apa yang harus aku perbuat dengan rangkaian aksara tak bertuan?
Bulan sudah hampir menyapa bumi saat ini,
Tapi aku tetap saja melihat kubah hitam hampir di semua penglihatanku,
Bahkan mahluk malam sudah mulai kelelahan menjelajah pikirannya,
Namun hingga waktu telah berganti menjadi terang,
Belum juga aku menemukan bait terakhir dalam mimpi.
Bekasi,
22 Desember 2007. 23.22 WIB
Aku Ingin Menulis Tentang Rasa Sakit Akibat Cinta dan Perpisahan
Apa yang terjadi ketika rasa bersatu dengan kertas?
Kertas putih yang polos dibenturkan dengan rasa yang sangat abstrak,
Ditambahkan dengan tinta sebagai pengukir kehidupan,
Apakah mungkin kertas dan tinta akan menjadi sebuah kehidupan hanya dengan rasa?
Saat ini, rasa memang benar-benar abstrak,
Bahkan sangat egois dan berperilaku seenaknya sendiri.
Kadang, rasa ini memerintahkan tinta untuk menulis yang senang-senang
Dan ada kalanya juga memaksa tinta untuk menulis yang sedih melulu.
Tapi, apakah aku bisa menguasai rasa ini,
Memerintahkan rasa sesuai keinginanku,
Karena akhir-akhir ini, rasa telah mengontrolku 24 jam,
Tanpa rasa, aku hanya seperti seonggok daging tak bernyawa.
Aku ingin menulis tentang rasa sakit akibat cinta dan perpisahan,
Aku ingin menulis tentang rasa suka akibat cinta dan pertemuan,
Aku ingin menulis tentang rasa biasa saja akibat cinta yang basi dan kebosanan,
Aku ingin menulis tentang rasa ini dan itu.
Aku mau aku yang mengendalikan rasa ini terhadap kertas dan tintaku,
Itu hakku untuk menulis,
Bukan keinginan si rasa yang angkuh ini,
Ahh… Aku mau rasa ini tahu apa yang ingin ku lakukan.
Bekasi, 12 April 2008, 00.50 pagi.
Aku Benci Otak Ini!
Aku seperti berjalan di sela-sela pohon pinus tanpa tujuan,
Bergerak ke segala arah, hanya mengikuti sampai di mana kaki ini menapak,
Tapi semakin aku terus melangkah, kakiku terasa berat tuk diangkat lagi,
Mungkin ini akhir dari semua perjalanan, atau mungkin aku yang sudah tidak kuat lagi?
Hah, sekarang sudah larut, tapi bahkan kelopak mata ini pun tak mau diajak kompromi,
Otak ini terus bergerak ke sana ke sini, entah apa maunya?
Sudah gila kah perasaan ini, sudah hilang kah akal pikiran ini?
Bila ini terus menerus terjadi, bisa mati muda aku ini.
Tuhan, aku hanya ingin tenang malam ini,
Aku hanya ingin bisa beristirahat, tanpa harus ditinggalkan oleh pikiran yang membabi buta mengajakku berpetualang ditengah dinginnya mimpi.
Tuhan, aku hanya ingin sejuk malam ini,
Aku hanya ingin bisa mematikan kegundahanku sejenak, tanpa harus carut-marut dengan teka-teki labirin yang menyebalkan.
Tuhan, aku hanya ingin bahagia malam ini
Aku hanya ingin bisa merantai otak ini, tanpa harus memenjarakannya, mengurungnya kuat-kuat seakan-akan dia mau lari dari kepalaku yang sepi ini.
Yah, aku benci otak ini,
Aku benci dengan pikiran-pikiran yang tak bisa diam,
Mimpi-mimpi yang memang seharusnya tak boleh hadir saat ini,
Otak ini terus memaksaku untuk terus berbincang dengan asaku,
Terus bertanya dengan buku hitam tentang takdir dan dosa.
Terus berputar-putar seperti tidak bosan-bosannya matahari muncul di pagi hari,
Terus berlari-lari seperti tidak bosan-bosannya waktu berlari tanpa lelah,
Terus tertawa seperti tidak bosan-bosannya setan menertawai manusia yang selalu melakukan dosa-dosa,
Terus menangis seperti tidak bosan-bosan bencana merusak rantai kebahagiaan penduduk bumi.
Lihat kan, otak ini pun tidak pernah berhenti untuk sekadar mati suri!
Mungkin harus aku tenggelamkan saja otak ini di tengah lautan pasifik,
Atau mungkin aku tabrak saja otak ini dengan mobil,
Sekencang-kencangnya badai membelah lautan,
Dan mungkin aku diamkan saja sampai ia sendiri bosan berseteru dengan diriku!
Bekasi,
24 Desember 2007
Ada Sapa di Pintu Lift
Hampir terpanggang oleh sang raja hari,
Aku mencoba berlari dengan detik,
Huh, keringat ini pun tak mampu mendinginkan jantungku,
Terus berdetak, semakin kencang, dan agak membuatku khawatir.
Tiba di sebuah lorong kotor dalam waktu yang tidak bertepatan dengan rutinitas,
Penuh sesak dijejali dengan kuda-kuda besi lusuh tak bertuan,
Seakan sedang menikmati ketenangan setelah dipecut dari pagi buta,
Dengan tergesa-gesa, aku melangkah lorong gelap dan kusam.
Ada sapa pagi itu di pintu lift,
Dia begitu sederhana dengan senyumnya,
Tak perlu pakaian mewah ataupun pernak-pernik yang lain.
Senyum itu telah membuat pagi ku menjadi lebih indah dalam hitungan detik.
Ah..mungkin dia hanya basa-basi tadi,
Di dalam lift kami membisu,
Seperti kursi yang disinggahi lalat,
Diam dan bergeming.
Tapi, entah aku yang bodoh,
Atau memang begitu apatis terhadap semua itu,
Sapa itu singgah lagi di telingaku,
Satu garis lengkung terbuka, membuka keindahan di pagi itu.
Lapangan Banteng, 5 April 2008, 09.00 pagi
Sisa Hidup Kemarin
Tak ada yang berubah dari tahun ke tahun, bulan ke bulan bahkan detik ke detik. Semua terasa konstan, nyaris tak ada perubahan yang berarti selain harga bensin yang terus bergerak bertolak belakang dengan dengan apa yang aku makan beberapa hari ke depan. Hidup di dunia ini memang susah-susah gampang, kadang bila lagi mujur, aku bisa makan tiga kali sehari. Tapi jangan harap kalau pancaroba telah merusak tatanan nasib bagus ku, sekali makan sehari saja sudah untung.
Aku memang besar dari keluarga yang bisa dibilang sangat payah. Pergi dari tanah kelahiran untuk menimba ilmu di Ibukota, dengan modal yang lumayan memprihatinkan bahkan aku pikir ini seperti terjun bebas. Sering aku mengeluh, mampukah aku mendapatkan apa yang aku cita-citakan selama ini? Sementaraurusan perut tak pernah mau diajak kompromi. “Huh, lelah rasanya mengeluh tanpa hasil seperti ini, buang-buang energi saja,” pikirku dalam hati.
Sudah dua hari ini aku tidak bisa tidur, pikiranku larut akan tugas-tugas kuliah yang menumpuk, buku-buku perpustakaan yang belum sempat dikembalikan, serta utang-utang makan hari kemarin di warung tegal itu. Sekarang sudah pukul 3 pagi, mata ini tidak mau diajak kompromi, pikiran ini tidak mau terdiam, seperti terbang ke dalam mimpi dan terus berhalusinasi. Tapi aku harus tidur, karena besok aku sudah harus berangkat kuliah pukul 7 pagi.
Entah kenapa, aku masih tidak bisa tidur juga. Pikiranku terus berputar-putar tak menentu, seperti labirin yang tak berujung. Kadang-kadang ingin menulis, kadang mengoceh kepada poto-poto bisu tak bersahabat. Malah kadang ingin buang air, tapi tidak mau keluar-keluar! “Hah, kenapa ini, tugas-tugas kuliah seperti ingin membuat logika ku menjadi keblinger! Beban kehidupanku membuat aku tidak lagi merasakan ketenangan,” tanyaku kepada poto sahabat-sahabat ku. Tapi mereka tetap diam, namun terlihat seperti ingin mengejek ku mungkin karena aku tidak bisa buang air malam ini.
“Coba kalau dipikir, bulan saja sudah mulai muak memperhatikan ku dari tadi, kini dia sudah mulai meninggalkanku. Tapi untuk apa aku membicarakan dia, toh aku juga tidak membutuhkan dia!,” ketusku kepada buku-buku perpustakaan jelek itu. Aku mulai meluruskan pikiran-pikiranku, menjadi sebuah garis lurus yang mudah-mudahan tidak akan putus. Namun semakin aku meluruskan pikiran itu, aku semakin berputar-putar pada titik-titik disekitarnya. “Aduh, jangankan tidur, menenangkan diri saja aku tidak bisa. Bisa-bisa aku tidak kuliah lagi besok, atau mungkin seperti biasa, aku akan terlelap manakala mahaguru asik menggurui mahasiswanya,” lagi-lagi aku mengeluh.
Aku jadi teringat peristiwa tadi siang, aku mampir ke tempat Senja, teman kuliah ku yang juga satu kampung, karena kami sama-sama dari Semarang. Aku bermaksud meminjam beberapa buku catatan sejarah politik Eropa Timur. Dengan senang hati, tidak hanya dia meminjamkan beberapa buku kusamnya itu, namun juga memberikan pencerahan kepadaku mengenai busuknya politik itu, tidak hanya jahat, tapi juga mengerikan. “Kamu tahu jan, bahwasanya politik itu sungguh menyebalkan, dia tidak mengenal lokasi, dimensi, waktu, ras, bahkan agama. Politik itu busuk, sebusuk ketika buah yang telah kau makan mendekam di dalam lambungmu beberapa waktu,” jelas Senja berapi-api.
“Hujan, hujan…, kenapa persoalan mendasar seperti itu saja kau tidak tahu,” sindirnya sambil sedikit menyengir seakan mau mendorong ku ke dalam sebuah jurang yang berisi orang-orang idiot bertumpuk-tumpuk di dalamnya. Sebenarnya aku sudah mengetahui tentang logika anehnya mengenai politik universal. Namun yang tidak aku mengerti mengapa sudah tahu busuk namun dia tetap mempelajarinya. Mungkin menurutku dia menyukai hal-hal yang berbau busuk. “Kalau aku, mending buah itu busuk di dalam dari pada busuk di luar, maksudnya busuk karena aku cerna daripada didiamkan malah busuk sendiri, mubazir itu mah,” selorohku sedikit bercanda.
Aku kembali dari ingatan tadi siang, menuju pukul 4 dini hari. Masih saja berkutat dengan ingatan-ingatan menjengkelkan, tanpa tahu kapan aku bisa beristirahat dengan tenang. Bagaimana kalau aku menyibukan otakku untuk berdebat dengan diriku sendiri, baik, aku bertanya sekarang, ”mengapa aku harus menikmati hidup tanpa ketidakjelasan?” Aku tidak menginginkan keadaan ini, tapi aku tetap menjalaninya. Kita ambil contoh malam ini, aku tidak mau melelahkan diri dengan pikiran-pikiran liar yang terkadang dapat membuatku terperangkap sendiri. Aku hanya ingin tidur malam ini, tapi otak ini terlalu liar untuk kujinakan barang sejenak.
Sebenarnya aku tidak mau ini terus berlanjut. Bebanku setiap detik bertambah berkali-kali lipat, tanpa terlihat. “Bagaimana jika aku mencari Tuhan, aku dengar Dia tahu segalanya, Dia bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kotorku,” gumamku dalam hati. Hanya ada satu cara untuk menjelaskan semua ini, aku memang harus bertemu dengan-Nya. Dan aku tahu bagaimana caranya untuk bertemu dengan-Nya. Kupotong nadi ini tepat sebelum adzan subuh, sebelum teman-temanku terbangun. Dan ketika bertemu Dia pertama kali yang akan aku tanyakan,”Sisa hidup kemarin itu busuk, apa aku memang pantas mendapatkannya Tuhan?”
Kupu-kupu Tak Bersayap

“Apakah kamu tahu berapa tinggi monas?,” tertulis dalam inbox sms ku, baru saja. “Siapa nih?, “ pikirku sebelum sempat aku balas sms itu. Aku benar-benar penasaran, saat ini sudah pukul 9 malam. Aku mulai bingung, jangan-jangan dia memang butuh informasi ini? Tapi mengapa aku yang dia pilih? Dan yang pasti, saat ini aku juga tidak tahu berapa tinggi monas! “ Jangankan tinggi monas, harga tiket masuk monas saja aku tidak tau,” kataku dalam hati.
Pesan pendek ini dikirim oleh seseorang yang sama sekali tidak aku kenal. Aku semakin penasaran, jangan-jangan dia benar-benar membutuhkan informasi ini. Tapi bagaimana aku dapat mengetahui jawaban dari pertanyaan itu. “Kamu kenapa si fa? Dari tadi lihat hape terus? Bukannya di tonton tuh film, bagus tau..,” tegur Vienna yang nampaknya mulai terusik olehku. Aku tetap bergeming memandangi kotak oval berwarna hitam yang memiliki layar kecil yang menyimpan begitu banyak pertannyaan. “Siapa sih dia? Sepertinya dia benar-benar membutuhkan informasi ini? Tapi terus..?,” aku semakin kehabisan kata-kata untuk merangkai pertanyaan demi pertanyaan ini.
Pesan pendek ini semakin menggelitik perhatianku. Film yang sedang diputar pada layar yang memiliki tinggi hampir setinggi rumahku pun aku acuh kan. “Bagaimana bila kubalas sms ini, tapi apa yang harus aku tulis? Maaf anda salah sambung, atau maaf, aku tidak tau, atau…?,” keraguan mulai meliputi seluruh isi kepala ini. Aku benar-benar ragu malam ini, ada ketidakyakinan akan segala tindakan yang sedang aku pikirkan. “Kamu dapat sms yah, dari siapa fa? Coba sini aku lihat,” tukas Vienna. Dengan cekatan, jari-jari lentiknya menyambar hapeku, kemudian mengutak-atik seenak hatinya.
“Kamu tau siapa yang mengirim pesan pendek ini?,” tanya Vienna padaku. Aku menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutku. “Ah, paling orang iseng, sudah gak usah digubris, diam kan saja fa, “ pintanya kepadaku. Namun aku masih terdiam, kemudian ku ambil kembali hape itu dari tangannya. Rasa penasaran masih merambat erat di sekitar wajahku, “maaf aku tidak tahu, siapa ini?” Dan pesan itu menuju seseorang misterius yang bertanya tentang hal membingungkan itu.
Aku terbangun saat matahari telah lelah melihat bumi dan meninggalkannya. Yah, sekarang sudah pukul 19.00, Magrib sudah hampir lewat, untung saja belum masuk saat sholat Isya. Bergegas aku mengambil wudhu, dan melaksanakan sholat. Di dalam pikiranku masih berputar-putar tentang pesan pendek yang kuterima semalam. Tak ada balasan lagi darinya, mungkin benar apa yang dikatakan Vienna, “mungkin ini hanya sms nyasar, …”
“Tok-tok…,” tepat pukul 11 malam hape ku berbunyi. “Duh, siapa yang mengirimkan pesan pendek malam-malam seperti ini?,” tanyaku dalam hati. “Kutipan hari ini: Mimpi adalah jawaban dari pertanyaan yang belum kita ketahui untuk ditanyakan,” tulis pesan pendek itu. Yah, lagi-lagi dari seseorang yang tidak dikenal itu. Aku semakin bingung, apa maksud dari semua ini? Untuk apa ia lakukan ini semua?
Dengan sigap aku bangun dari tempat tidur kamar kostku. Dengan perasaan bingung, aku menuju kamar Vienna yang tepat berhadapan dengan kamarku. “Vin… dia sms lagi..,” dengan terengah-engah aku menghampirinya. “Syifa, kamu kenapa? Tenang deh, ada apa sih?,” tanya Vienna sambil menenangkanku. “Dia sms lagi, lihat nih!,” sambil menyodorkan hape hitamku pada Vienna. “Apa sih maunya dia, dibales ga ada respons?,” tanyaku. “Hemm, lucu juga nih smsnya, kalau dia wanita, pasti baik sekali, tapi kalau dia laki-laki, hem, hehehe..” Vienna malah tertawa setelah membaca sms itu.
Sudah sebulan ini dia terus mengirimkan pesan pendek. Dan semuanya selalu diawali dengan “kutipan hari ini.” Ada perasaan senang saat menerima pesan itu, bukan saja menambah motivasiku dalam hidup. Namun juga merasa bahwa ada orang lain, meski tidak aku kenal tetapi selalu memperhatikanku. Setiap sms yang ia kirim selalu aku balas, namun tidak pernah ada komunikasi secara langsung dari dia.
Namun, terkadang ada rasa penasaran besar yang tidak mau lepas dari kepalaku. Penasaran yang lebih dari sebulan ini terus menusuk sisi kesadaranku. “Siapa dia? Untuk apa dia lakukan ini semua? Dan kenapa harus aku?”
Hingga tepat hari ke 57 sejak ia pertama kali mengirimkan pesan pendek terus menerus ini, ia merubah bentuk sms itu. “Apa yang akan kamu lakukan pada seekor kupu-kupu tanpa sayap?,” tulis sms itu. Apa maksudnya dia menulis itu, tanyaku dalam hati. Dia semakin misterius, apakah harus ku balas. Apa yang harus aku lakukan pada seekor kupu-kupu tanpa sayap? Yang aku tahu, itu sama saja membunuh sang kupu-kupu. Setengah hidup kupu-kupu itu telah hilang.
“Setengah hidup kupu-kupu itu telah hilang, dan apa yang ku lakukan? Menyelimutinya dan merawatnya bersamaku,” tulis sms yang kubalas padanya. Dia tidak menjawab, tapi tepat pukul 00.00 WIB dia menelponku. Aku panik, takut, bingung, penasaran, gundah, dan sejuta rasa tidak menyenangkan menusukku saat ini. Apa yang harus aku lakukan?
“Aku kupu-kupu tak bersayap itu, dan kau sekuntum bunga yang seharusnya aku hampiri, tapi tanpa sayap apa yang bisa aku lakukan,” sebut seorang pria bersuara berat, agak tersendat dan mungkin berusia sekitar 20-30-an tahun. Aku benar-benar terdiam, “aku tidak tahu apa maumu, dalam 2 bulan terakhir kau sudah menghampiriku meski tanpa sayap. Apakah kau memang hanya bergantung dengan sayap mu atau kau punya sayap baru di hatimu yang seharusnya lebih kuat mengantar mu pada sekuntum bunga,” jawabku. Dan menjadi akhir hubunganku dengan kupu-kupu tak bersayap, yang kurasa sedang tersesat.
Anya dan Si Idiot
Rintik masih tidak mau bersahabat dengan diriku hingga malam ini. Terus membasahi setangah tubuhku yang semakin menggigil diterpa hawa dingin trotoar ini. Rasa lelah mulai merangkak lambat sampai ke persendian di seluruh tubuh. Sepatu ini pun sudah basah, karena sering bercengkrama dengan kubangan yang semakin ramai dijumpai. Hewan-hewan malam mulai melindungi diri dari hawa dingin terkutuk ini. Hening malam mulai mencekam, suara kendaraan hanya terdengar sayup-sayup dari kejauhan.
Sekarang sudah pukul satu pagi. Aku masih berkeliaran di trotoar kampus yang begitu mencintai alam, terlihat dari begitu banyaknya pohon yang ditanam di lahan kosong ini. Pikiranku masih tertinggal jauh di rumah Annya, teman wanita ku, yang baru saja aku ajak pergi. Kami memang sudah lama mengenal satu sama lain sejak SMA. Dan kami pun masuk ke sebuah perguruan tinggi yang sama, bahkan fakultas yang sama juga, Fakultas Sastra.
Ketika pertama kali duduk di bangku kuliah, aku dan Annya tidak terlalu dekat. Kami jarang berbicara, hanya sekadar menegur, bahwa kami memang sudah mengenal sejak lama. Terkadang kami berpapasan, namun hanya saling menyapa dan tersenyum basa-basi. Setidaknya saat itu dia adalah kekasih temanku, Aleksey. Apalagi, di awal masa kuliah, aku tidak banyak memperhatikan mahluk lawan jenis, sehingga Annya benar-benar luput dari perhatianku.
Annya, adalah gadis yang cantik. Banyak teman-temanku yang menyukainya, “Coba kau lihat Annya, semakin hari ia semakin memesona, betul ‘kan?,” kata Sergey meyakinkan. Aku tidak menggubris ucapannya pada waktu itu. Namun, aku sempat berpikir, Annya memang cantik, baik, ceria, dan yang hampir tak mampu dicerna oleh otakku adalah, dia selalu tersenyum. Bahkan sepanjang hari, seperti tidak memiliki beban hidup sama sekali.
Aku mulai mengenal lebih dekat dengan Annya justru ketika aku sedang menyukai gadis lain. Yang tidak lain adalah sahabat Annya. Aku mulai berbincang-bincang dengannya. Bagaimana tidak, gadis yang kudekati itu selalu bermain dengannya. Hampir setiap hari mereka bersama, dan mau tidak mau aku mulai dekat juga dengan Annya.
Hingga pada akhirnya, Natalya, gadis yang kucintai itu menjawab semua doaku selama ini. Semakin dekat aku dengan Natalya, semakin aku mencintainya. Ia begitu sederhana, begitu ceria, begitu sempurna. Dan begitu pula dengan Annya, aku semakin sering berbicara dengannya. Karena mereka memang bersahabat, aku semakin mengenal Natalya berkat cerita-cerita yang dikatakan Annya. Kadang, banyak cerita-cerita yang sama sekali aku belum tahu, tapi terkadang ada beberapa cerita yang sepatutnya aku tidak dengar.
Suatu hari, aku dan Natalya bertengkar hebat. Yang akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Hari itu aku begitu emosi, tidak mampu berpikir jernih. Seluruh isi kepalaku dipenuhi dengan kebencian, sumpah serapah, cacian, bahkan beberapa pikiran kotor yang tidak pantas. Natalya benar-benar berubah setelah dia mengenal Dimitri. Ia lebih sering berbohong, terlalu sering menuntut, dan setiap sesuatu yang aku lakukan tidak pernah benar. “Aku tidak mau bertemu kamu hari ini, aku sedang sibuk, menyiapkan bahan-bahan untuk ujian besok,” ketus Natalya waktu itu. Padahal aku tahu, besok ia tidak ada ujian sama sekali. Sikapnya mulai berubah, dan aku sudah tidak tahan lagi. Semua ini harus berakhir.
Semenjak kami berpisah, aku mulai jauh dari Natalya, bahkan aku sudah sama sekali tidak berhubungan juga dengan Annya. Setelah beberapa bulan aku mendengar kabar bahwa Annya sudah berpisah dengan Aleksey. Aku mulai menghubungi Annya, karena kupikir, mungkin aku dapat menghiburnya.
“Annya, sudah lama kita tidak berbicara, kemana saja dirimu?,” tanyaku saat aku menemuinya di perpustakaan Fakultas.
“Hey Pavel, tumben kamu ke perpustakaan, angin apa yang membawamu ketempat paling membosankan ini?,” tanya Annya sambil memegang buku besar ensiklopedi Eropa Timur.
“Kenapa kau malah bertanya kembali? Aku memang mencarimu tadi, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu,” ujarku dengan sedikit memelankan suara, karena memang suasana di tempat ini begitu tenang.
“Tampaknya kau akan berbicara tentang sesuatu yang penting sekali, sampai-sampai kau mencariku hingga ke tempat yang paling tidak kau inginkan ini, hahaha..,” balasnya sambil sedikit mengejekku, karena memang aku paling malas untuk pergi ke perpustakaan. Di tempat ini suasananya begitu memuakkan, mereka yang sering ke tempat ini terlalu asik dengan kepentingan pribadi masing-masing. Yang seakan-akan terbuai dengan dunia baru di dalam genggaman mereka. Dalam tiap-tiap lembar waktu, dalam tiap bab-bab kehidupan yang hanya bisa mereka perhatikan tanpa melakukan sesuatu apapun.
Aku dan Annya semakin dekat, kami sering berbicara, bahkan tidak jarang aku mengajaknya plesiran ke tengah kota. Aku menemukan kembali hidupku setelah beberapa waktu lalu berserakan di tengah jalan. Annya benar-benar membuatku kembali dari hibernasi terhadap kebahagiaan. Dan hari ini aku baru saja dari rumahnya, setelah seharian melihat-lihat sudut-sudut kota tua yang memang menjadi kegemaran kami berdua. Yah, hari ini aku benar-benar seperti dilahirkan kembali.
Hingga pada langkah terakhir menuju tempat kostku, aku terhentak. Aku tidak boleh meneruskan kebahagiaan bodoh ini. Annya begitu perhatian kepadaku, bahkan hari ini dia pun begitu manja kepadaku. “Ini sebuah kekeliruan besar! Kesalahan seorang anak manusia yang merasa sudah bangun dari hibernasinya!,” pikirku dalam hati. Ada pertanyaan besar dalam diriku, “Apa yang sebenarnya aku lakukan? Untuk apa aku melakukan ini semua?” Aku harus menjauhi ini semua, aku tidak mau hidup dalam perasaan ini.
Aku mulai melakukan percakapan dengan pikiranku,” coba kau tanya pada dirimu sendiri, apa yang dimaksud dengan kebahagiaan? Selalu tersenyum atau sebuah situasi di mana kau benar-benar nyaman?” Aku mulai tidak mengerti, saat ini aku merasa bahagia. Tapi tidak beberapa lama aku merasakan ada sesuatu kerinduan. Kerinduan akan suatu kondisi di mana hampir setiap hari aku benar-benar menikmatinya. Kesendirian, kehilangan, rasa sakit, yang benar-benar setia menyapaku setiap hari itu mulai hilang. “Kemana mereka? Aku benar-benar rindu dengan mereka!,” tanyaku dalam hati. Aku mulai mencari-cari mereka, “bersembunyikah mereka di antara relung-relung gelap otakku? Atau mulai tergusur oleh keceriaan dan kebahagiaan ini?”
Sekarang sudah pukul empat pagi. Aku begitu bodoh meninggalkan rasa sakit itu untuk bertemu sebuah kebahagiaan. Aku begitu tolol meninggalkan kesendirian ini untuk menyapa sebuah keceriaan. “Benar, aku harus mengakhiri kebahagiaan ini secepatnya, aku harus menemukan kembali rasa sakit dan kehilangan itu, “ ujarku dalam hati. Aku benar-benar seorang pengkhianat, aku meninggalkan mereka yang selama ini begitu setia kepadaku, begitu perhatiaan kepadaku. Aku merasa tak lebih rendah dari anjing kurap yang menggigit majikannya setelah diberi makan.
Dan pagi ini aku sudah memutuskan untuk mencari penderitaan itu. Karena aku yakin tidak ada yang lebih nyata di dunia ini selain penderitaan. Tidak ada di dunia ini yang begitu setia kepadaku selain rasa sakit. Dan tidak ada yang lebih nyaman bagiku selain kesendirian, menikmati setiap detik waktu dengan kehilangan. Aku begitu idiot untuk melupakan ini semua untuk sebuah kebahagiaan yang hanya akan mati seperti bara yang tersiram air hujan. Seperti abu yang terbang tertiup angin. Seperti es yang meleleh karena terik matahari. Kebahagian itu tidak sekekal penderitaan. Karena hidup memang selalu di sapa oleh rasa sakit, kehilangan, dan penderitaan.
Aku, Waktu dan Kursi Dorong
Perjalanan waktu berjalan seperti biasa, namun mengapa terasa begitu cepat bagiku. Seperti tak mau berhenti barang sedetik pun. Mungkin dia akan berhenti, kalau saja jam itu rusak, karena aku memang membelinya di Pasar Rumput beberapa waktu yang lalu. Dan walaupun telah berhenti, tapi itu hanya waktu yang ada di tanganku saja. Bukan waktu yang ada di muka bumi ini.
Berbicara masalah waktu yang terus berputar, terkadang aku merasa putus asa mengapa jalan hidupku tidak sesuai dengan waktu. Bayangkan saja, saat waktu terus memilin kehidupan setiap detik, setiap menit, setiap jam bahkan abad, aku hanya terdiam memandangi jam butut yang tak mau menyala lagi. “Sudah bebal tampaknya jam ini, berkali-kali ku hina dengan sumpah serapah pun dia tetap tak berkutik. Sudah tuli rupanya waktu ini?” Aku mengumpat sekeras hati. Hah, aku bahkan mulai berkeringat saat ini karena waktu yang tidak mau berubah itu.
Aku tidak kehabisan akal, coba ku bongkar pasang waktu ini, mulai dari mengganti talinya, yang sebelumnya dari kulit palsu yang kusam, kini lebih bagus karena sudah ku cat. Tapi tetap saja tidak mau bergerak barang sedetik pun. “Aneh, apa maunya waktu ini, mengapa dia menjadi begitu manja! Sebentar, bagaimana bila waktu yang saat ini sudah melingkar di tangan kiriku akan kupindahkan ke tangan kanan ku, mudah-mudahan dia sudah mau bergerak-gerak,” gumamku sambil tersenyum.
Hey, aku mulai panik, mengapa waktu ini terus membandel. Aku mulai kehabisan ide untuk membuatnya sekadar bergerak, atau mungkin bergeser dari angka satu ke angka dua. “Apa beratnya bergeser dari angka satu ke angka dua, jaraknya tdak sampai satu kilometer
Sebenarnya hari ini aku berencana untuk pelesir ke daerah
Aku tinggal di tempat yang tidak lebih dari separuh halte bus, penuh sesak dengan perabotan kusam yang bisa aku kumpulkan dari Pasar Rumput. Hmm, berbicara tentang Pasar Rumput, aku punya banyak pengalaman di sana. Suatu pagi yang dingin, hah agak berlebihan tampaknya menggambarkan Jakarta terasa dingin di pagi hari. Bahkan di malam hari saja, aku harus melepaskan kaus saat menjelang tidur, benar-benar Jakarta begitu panas saat ini. Kembali ke Pasar Rumput, Jakarta yang telah terinvasi oleh mal-mal modern, tetap tidak menggetarkan hatiku untuk selalu setia berbelanja di pasar ini. Pagi itu, aku menemukan sebuah kursi dorong yang biasa digunakan oleh mereka yang tak mampu berjalan serta sebuah jam tangan. Entah ada faktor mistis apa yang membuatku begitu tertarik untuk membeli dua benda usang ini. Meski bekas, ternyata kursi dorong ini masih mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Begitu juga dengan jam kulit, yang sebenarnya tidak jelas kulit asli atau palsu.
Kadang aku berpikir, mungkin ini yang biasa di sebut orang cinta pada pandangan pertama. Sekali melihat, aku langsung lemas, terpedaya, seakan ada sebuah dorongan besar yang memaksaku untuk memilikinya. “Lihat kursi ini, begitu unik sekali, aku akan menjadikannya sebagai kursi kerjaku, lalu coba perhatikan jam ini, meski kusam tapi dia masih bias berputar, aku begitu terkesan oleh perjuangan jam ini melawan waktunya sendiri,” kataku dalam hati.
Kemudian, setelah menyelesaikan transaksi yang berlangsung cukup alot, aku menghentikan bajaj yang sebelumnya berjalan lambat di dekatku. “Mas, kalau sampai stasiun Cikini berapa yah?” tanyaku pada supir bajaj yang terlihat tidak bersahabat, peluh yang membanjiri seluruh raut wajahnya, serta handuk kotor yang melingkari sebagian lehernya. Dengan pandangan yang seakan-akan ingin menelanku bulat-bulat ia memberikan jawaban, “
“Ah, ‘
“Oke, tujuh ribu
Yah itulah kenapa akhirnya aku ditakdirkan bertemu dengan waktu yang ternyata saat ini tidak mau berdiri menjadi waktu yang sebenarnya. Saat ini dengan berulang kali aku memperhatikan arloji ini dari atas kursi dorong kesayangan dia tetap tidak mau berubah. Sebentar, setelah kuperhatikan lebih jauh, aku ternyata mirip dengan waktu ini, sama-sama keras kepala, pendiam, setia. Untuk kata setia, selama ini waktu tersebut yang selalu menemaniku, dan memang aku juga begitu setia dengannya. Terkadang aku berpikir bahwa kami memang ditakdirkan untuk selalu bersama betul
Kalau saja waktu itu tahu, kenapa hingga saat ini aku tidak mau menggantinya, yah karena dia memang cinta pertamaku bersama dengan kursi dorong ini.




