Mie Rebus dan Telur Setengah Matang



Apa sebenarnya yang manusia cari dalam hidup? Harta, selebritas, ilmu atau justru nafsu serta ego manusia itu sendiri?

Tepat pukul 9.30 siang gelap ini telah berevolusi menjadi terang. Bising kendaraan bermotor dari balik jendela seakan menjewerku dan berteriak seenaknya, " Cuy! Sudah siang, bangun donk!" Teriaknya begitu jelas di kuping kiri ini, tapi makin menghilang setelah melewati kepala lalu keluar melalui kuping kanan.

"Kata orang, bangun pagi banyak rejeki, bangun siang, rejekinya udah hilang diambil orang," seru suara bising kendaraan bermotor itu.

"Aaah, setiap pagi mereka selalu menggangguku dengan filosofi-filosofi murahan itu," gumamku dalam hati.

Tapi coba kalau kita telisik lebih jauh, filosofi murahan itu bisa menggelitik pikiranku pagi ini. "Bangun pagi banyak rejeki, bangun siang rejekinya sudah hilang? Ah, masa sih? Bagaimana kalau kita memang kerjanya shift malam? Jadi yah memang dia hanya dapat fulus gara-gara kerja di malam hari" pikirku

Baru bangun tidur, tapi lamunanku sudah lebih jauh dari kamar mandi kost ku. Gara-gara knalpot Bajaj berisik tadi aku jadi teringat cerita seorang teman kuliahku dulu. " Gw lebih efektif bila bekerja di malam hari, apalagi after midnite, Gw bisa lebih maksimal," jelasnya waktu itu. Cukup menarik apa yang telah dikatakannya itu, Aku sendiri malah sangat menikmati bekerja di malam hari. Ada sentuhan tersendiri saat harus bekerja pada malam hari. Suasana mistis, hening dan kelam cukup bisa membuat kepala ini semakin tenggelam bersama carut-marut pekerjaan.

Pernah suatu malam saat semua jalan terasa buntu ketika sedang mengerjakan sebuah tugas, aku mampir sebentar ke warung kopi yang masih berada di sekitar tempat kost ku. "Mie rebus dan telur setengah mateng kang," pintaku pada si empunya warung kopi ini. Tak berapa pesananku pun tiba, " silahken kang, seperti biasa mie rebus dan telur setengah matengnya," sebut si akang itu. "Tapi kang, kalau malem begadang terus, dan siang juga berangkat kerja, makannya cuma beginian apa ga sayang sama umur?" Tanya si akang warung kopi sambil tersenyum.

"Siapa bilang saya sayang sama umur? Saya cuma sayang sama Mie rebus dan telur setengah mateng ini, sayang kalau tidur nanti malah ga bisa menikmati sajian ini dini hari. Sayang kalau tidur ga selesai semua kerjaan, sayang kalau tidur banyak waktu yang jadi sia-sia. Sayang kalau tidur nggak bisa memaksimalkan semua kesempatan, sayang kalau tidur malah nggak mau bangun lagi," jawab ku.

"Loooh... dan jam 11 belum mandi! ini gmana??" Teriakku sekencang-kencangnya sambil membawa handuk dan perlengkapan mandi....



Bandung, 12th Dec 2008. 2,30 pm

Latest Post
Jumat, 24 Juli 2009

Kisah Burung Berteduh dari Hujan


Kisah Burung Berteduh dari Hujan


Photo: deadmansbones.wordpress.com

Sore itu, Hujan masih terus bekerja. Padahal Dia sudah bekerja dari malam kemarin. Hasil kerjanya cukup menakutkan, ia berhasil mengelabui binatang-binatang di hutan karena beberapa jalan yang berlubang tertutup oleh air. Beberapa Ranting harus hanyut dibawa Sungai entah kemana. Hampir seluruh penghuni Hutan pun merasakan kerja keras Hujan, bahkan ada yang bilang Dia terlalu berlebihan hari ini.

Apa yang sebenarnya diinginkan Hujan. Toh cita-citanya untuk tetap menjaga Burung agar tidak terbang dan pergi jauh sudah sirna? Burung tidak mau terus-terusan diguyur Hujan sampai mati kedinginan. Bukan hanya kebebasanya yang dia cari, tapi juga bertahan hidup dari Udara dingin akibat Hujan. Burung telah pergi jauh bersama teman-temannya. Meninggalkan Hujan sendiri tanpa sedikit pun senyum yang ditinggalkan.

Lalu apa yang Hujan saat ini lakukan? Dia bekerja begitu keras hingga lupa waktu. Ia seperti bekerja tanpa tujuan.

"Aku tidak bekerja saat ini, aku tidak marah, saat ini. Aku hanya mengikuti apa yang ayah lakukan, melakukan apa yang aku mau saat ini," jelas Hujan.


Satu tahun kemudian, Burung kembali ke sangkar lamanya. Ia terlihat begitu kelelahan setelah mengarungi samudera bersama teman-temannya. Matanya mulai sayu, terlihat begitu lemas. Dua pasang garis lengkung hitam di bawah matanya mulai setia menemaninya hari demi hari.

Hingga pada suatu pagi dia menemukan Udara begitu panas, Langit begitu terang.

"Kemana Hujan? Dia yang selalu ingin mengguyurku dengan airnya itu?" Tanya Burung kepada Sungai dan Gunung.

"Bukannya dia selalu ada di sekitarmu yah? Apakah kau tidak merasakannya? Hujan selalu ada menemanimu, tapi kali dia tidak bisa mengeluarkan air. Karena setelah kepergianmu, dia selalu menangis tanpa air mata. Kau akan begitu dekat merasakan kehadirannya saat Pagi tiba," Jelas Gunung...


Kemang, 25 July 2009. 10.42 Am

Minggu, 19 Juli 2009

Takut dengan Antusiasme


Takut dengan Antusiasme


Di pinggir jalan.


Ada seorang teman yang sebenarnya terlihat sangat bahagia sekali. Terlepas dari semua beban yang ada dikepalanya, ia terlihat begitu bersemangat. Apa yang membuatnya begitu bersemangat? Hingga saat saya berkesempatan untuk sekadar sharing dengan dia barulah ia bercerita panjang lebar. Semua berawal dari ketertarikan dirinya terhadap pekerjaannya. "Saya benar-benar begitu tertarik dengan bidang yang saya geluti saat ini, begitu dinamis dan sangat menantang," jelasnya.

Senang mendengar kalimat tersebut keluar dari mulutnya, pria yang biasanya lebih banyak diam, dan sibuk dengan carut-marut kesibukannya dengan garis lengkung yang bukan hadir di bibirnya sebagai senyuman. Namun garis lengkung di dahinya yang selalu membuat wajahnya tampak seperti orang bingung. Benar saja, hampir sepanjang pembicaraan dia begitu antusias mengeluarkan teori-teori baru dan cukup menarik, meski dia tidak terlalu yakin karena memang ini masih terlalu baru juga baginya.

Namun yang membuat saya tambah kagum adalah keputusannya yang begitu cepat juga untuk mengakhiri ketertarikannya ini. Dalam hitungan menit dia menjelaskan dua tema yang sama sekali jauh berbeda dengan intonasi yang sama-sama begitu tinggi. "Saya merasa harus segera menghentikan antusiame ini dalam waktu dekat, ingin sekali membunuh antusiasme ini, dan kembali ke manusia biasa yang jauh dari obsesi dan tantangan," tambahnya.

Menurut hemat saya, apa yang dijelaskannya ini sukar saya cerna. Seseorang yang begitu menyukai profesinya ini malah takut dengan antusiasmenya sendiri. "Bayangkan saat saya berada di rumah, di depan anak dan istri saya sendiri, yang ada di kepala ini hanya challenge, and how to make effective strategy for my job! lebih baik saya bikin tambak ikan di laut hahaha..." ucapnya sembari tertawa yang kemudian diiringi seruputan teh tubruk hangat di warung Mas Agus di pinggir jalan raya Solo-Jogja malam itu.

Ketakutan teman saya itu memang masuk akal, terkadang keinginan yang terlalu berlebihan atau yang teman saya selalu bilang Kehausan akan Ilmu bisa jadi bumerang bagi kepalanya sendiri. Hingga meski hanya sebatas guyonan, dia mau melepaskan apa yang ada padanya untuk menjadi seorang petani tambak yang begitu jauh dari bidang pekerjaannya selama ini.

Meski telah berulang kali saya pikir memang cukup masuk akal, tapi sekali lagi sulit untuk mencernanya. Kenapa dia bisa berpikir seperti itu, apakah karena dia tidak mampu menerima tantangan itu semua? Tidak mampu membagi waktu dengan keluarga? Mau mencari pekerjaan yang tidak terlalu dinamis dan berubah dengan cepat seperti petani tambak?

"Saya takut dengan antusiasme ini, karena saya tidak tahu how to manage this enthusiasm", ungkapnya datar...



Kemang 20th July 2009, 4am WIB

+

Labels

The Owner

Foto saya
Seorang laki-laki yang baru belajar menulis

Blogroll

About