Musik tidak melulu harus laku dijual



Sore dalam salah satu konsernya di Blizt Megaplex Jakarta

“Wah lagu yang lo bikin masih kedengaran komersil men,” ketus seorang teman saat mendengarkan demo lagu itu. “Iya, mungkin hanya lagu ini yang cukup komersil, tapi lainnya idealis semua kok,” jelas teman saya yang lain si pemilik lagu demo tersebut. Menggelitik sekali percakapan ini dibenak saya. Mungkin beberapa tahun lalu kita sempat berada pada fase di mana musik harus laku untuk dijual. Tapi perlahan -tidak tahu pasti atau tidak- mindset kita sudah berubah. Musik tidak melulu harus laku dijual.

Yah, memang sekarang musik sudah tidak laku dijual, tapi sangat laku dibajak. Tidak heran label-label besar mulai panik, dan melakukan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan pembajakan ini. Terlepas dari laku atau tidak laku, scene indie mulai tumbuh lagi di akhir tahun 2000. Kalau bisa kita telaah lebih jauh, apa yang sebenarnya melatarbelakangi musik indie ini begitu tumbuh pesat seperti jamur setelah hujan? “Simple sih, kita ga perlu mikirin konsep yang berat-berat, bikin ajah, nikmatin ajah, mau laku syukur ga yah lo dah bisa bikin lagu ‘kan,” jawab beberapa teman dari komunitas musik indie, yang ternyata masih satu kampus juga dengan saya.

Didukung dengan teknologi yang ramah komunitas seperti internet, serta fasilitas web berbasis jejaring sosial pertemanan seperti myspace, blog, friendster bahkan facebook yang menjadi tren baru sanggup membawa komunitas ini menjadi lebih bernyanyi. Bahkan dari pergulatan dunia maya ini beberpa band indie telah berhasil mentas di berbagai negara, seperti Everybody Loves Irene (ELI) yang beberapa waktu lalu mengadakan konser di Singapura, bahkan White Shoes and The Couple Company pun baru-baru ini berhasil mentas di negeri Paman Sam.

Bila dibandingkan dengan perjuangan salah satu dedengkot musik indie bandung -yang mungkin bisa dibilang nasional juga- Pure Saturday harus bersusah payah di tahun 1995 yang akhirnya dapat menelurkan sebuah album perdana. Banyak pengamat mengatakan ini merupakan sebuah perjudian. Meski langkah nekat ini bisa dibilang berhasil meski tidak setinggi penjualan band-band label besar seperti Basejam atau Dewa19 di saat itu.

Seiring perjalanan, musik indie pun sempat turun pamor, hingga segerombolan anak muda mulai membangkitkan kembali scene ini yang sempat vakum terlibas musik-musik yang lebih familiar di telinga masyarakat Indonesia. Segerembolan anak muda dengan ciri khas masing-masing, yang bisa dikatakan era indie tahun 2000-an lebih berwarna, yang tidak melulu beraoma Britpop maupun Britrock yang biasa digembar-gemborkan oleh The Cure, Oasis, Manic Street Preacher, Blur atau The Cardigan.

Mereka sekarang lebih berwarna, Sebut saja Sore, dan White shoes and The Couple Company. Cukup keluar dari unsur upbeat. Terkesan lebih manis, meski masih ada keseragaman dengan banyak mengambil sound old school, dan nuansa vintage, baik dari lagu, fesyen, maupun aksi mereka di atas panggung. Bahkan band indie bergenre yang keluar dari “peradaban” telinga genre indie yang lain, Homogenic berhasil masuk nominasi Best Contemporer Artist di AMI Awards 2004.

Dan justru di sini sebenarnya daya jual dan daya tarik musisi dari scene indie, penampilan yang benar-benar berbeda, loyalitas fans yang luar biasa, meski untuk pangsa pasar yang terbatas. Musik memang bahasa yang paling universal, dia bisa berbicara apa saja, meski tidak laku dijual, tapi tetap enak didengar, setidaknya bagi penciptanya sendiri.


Jakarta, 4 Oktober 2008, 16.00 WIB

Latest Post
Kamis, 02 Oktober 2008

Sisakan Cintamu Untuk ku Hari Ini


Sisakan Cintamu Untuk ku Hari Ini


Sumber foto: worth1000.com

Sunyi selalu setia bersamaku satu minggu terakhir ini.
Hening yang senantiasa tidak mau pergi dari hadapanku.
Apakah ini memang sudah garis hidupku?
Bersua dengan mimpi dan imaji?

Semestinya kunang-kunang itu masih bersamaku,
Kata orang dia bisa menyala dalam gelap
Dan juga berlari dalam gelap,
Tapi apakah mungkin dapat menemukan tujuannya dalam gelap pula?

Sunyi yang tidak hanya menyerang seluruh rutinitas ini
Tapi sunyi pula yang memiliki andil dalam keputusan-keputusan hidupku.
Sunyi yang datang setelah kunang-kunang itu pergi,
Sunyi yang selalu menyadarkanku bahwa kunang-kunang itu tidak ada lagi saat ini.

Gerimis mulai turun dari tiang langit,
Tanpa sedikitpun keraguan, ia menghujam bumi tanpa belas kasih,
Sunyi pun mulai berlarian dari satu sisi ke sisi yang lain,
Tanpa malu aku marayu, “Sunyi, sisakan cintamu untukku hari ini saja,”

Sunyi tersenyum, berteriak, dan tertawa,
Sunyi berlari, melompat dan terbang,
Sunyi,” Aku akan menyisakan cinta ini untuk mu hari ini saja,”
“Tapi aku hanya sunyi, bukan kunang-kunang,” bisiknya lembut di telingaku…



Bekasi, 2 Oktober 2008, 14.05 WIB

Rabu, 01 Oktober 2008

Kemampuan Saya Hanya Sampai di Sini Pak!


Kemampuan Saya Hanya Sampai di Sini Pak!



Sumber foto: www.stockphotography.com

“Kalau mau dibilang siapa yang paling lambat dalam bekerja, bisa dibilang itu gw Ndie,” ungkap seorang teman sekantor saat menanggapi semua cerita saya tentang pekerjaan. “Kalau dibilang paling susah nangkep tugas-tugas baru yah gw juga. Bisa dibilang gw paling katrolah di divisi ini,” jelasnya. “Tapi gw ga mau nyerah begitu ajah, gw ga mau kalah men, gw cowo!,” tegasnya.

Saya sempat berpikir lama mendengar pernyataan tersebut, yang keluar begitu deras seperti tak mengenal kompromi. Memang saat itu saya sedang sedikit banyak mengeluh mengenai beban pekerjaan sehari-hari, yang mau tak mau harus ditangani dengan cepat. Dan ketika itu saya mulai berpikir bahwa bila kita tidak dapat mengikuti siklus ini, bukankah hanya malah menjadi beban?

Beban? Yah, itu yang terus menerus saya pikirkan setiap hari. Saya merasa kemampuan yang ada pada diri ini tidak terlalu banyak membantu. Malah bisa membahayakan pekerjaan. Misalnya, ada suatu kasus pekerjaan beberapa waktu lalu, yang seharusnya bisa diselesaikan dalam 1 bulan, tapi hanya dapat saya selesaikan dalam satu setengah bulan. Lagi-lagi selalu terngiang dalam pikiran ini, seorang pekerja professional tidak akan bisa mentolerir keterlambatan sedikitpun.

Dan, benar saja. Di saat itu saya seperti menjadi beban dalam tugas ini. Saya tidak ingin bersembunyi di balik ketidakmampuan otak ini dalam menangani sebuah pekerjaan. Bukan juga karena saya masih baru di bidang ini atau bukan karena pekerjaannya terlalu sulit. Hanya memang saya telah menjelma menjadi sebongkah karang besar di tengah lautan, dan dalam hitungan waktu karang ini siap menenggelamkan kapal sebesar apapun yang akan melintasinya.

“Tapi pak, saya harus mengerjakan juga ini dan itu, semuanya perlu waktu, sehari cuma 24 jam, jadi cukup berat bagi saya,” jelas saya dalam sebuah diskusi internal dengan seorang atasan. “I don’t care, kamu harus segala menyelesaikannya, dan harus sempurna besok,” tegas atasan tadi. Yah memang segalanya harus selalu sempurna. No body perfect terasa menjadi frase klise dalam kasus ini. Semua harus sempurna, karena kita profesional.

Benar, di sini saya mulai menemukan benang merahnya. Profesionalisme mulai saya benturkan dengan karang besar ini, tinggal menunggu waktu, bisa-bisa divisi ini gulung tikar. Sampai di titik inilah saya mulai bercerita panjang lebar dengan temanku tadi. Namun, seperti yang telah dijelaskan di atas, kita tidak bisa menyerah begitu saja. Semua butuh proses, dan jangan pernah menganggap diri kamu tidak bisa.

Tapi bukan karena kamu tidak mampu sehingga kamu menjadi beban, ada feel dalam menyelesaikan sesuatu. Hubungan sesama manusia juga berpengaruh, rasa nyaman benar-benar cukup menentukan kualitas dari hasil kejar kita. Tapi bukankah kita harus keluar dari comfort zone kita untuk memperoleh hasil yang maksimal?

Hehehe… jadi bertele-tele begini yah, beban, saya benturkan profesionalisme, kemudian saya benturkan lagi pada proses, lalu dibenturkan lagi dengan struggle untuk tidak mudah menyerah. Malah sekarang dibenturkan lagi dengan comfort zone. Bisa-bisa benjol kepala ini kebentur terus-terusan.

Ada seorang teman berkata, hidup ini seperti buku, ada buku-buku politik atau filsafat yang sangat berat dan tidak mudah untuk dicerna. Lalu ada buku yang ringan-ringan saja, mudah dicerna dan sangat populer. Dan sayangnya buku-buku ringan ini yang paling digemari. Kalau kita hanya membaca buku-buku yang ringan hanya sedikit pelajaran kehidupan yang akan kita mengerti. Dan sampai titik ini ada parameter "hantu" yang mengatakan “kemampuan saya hanya sampai di sini pak!”



Bekasi, 2 Oktober 2008, 01.00 WIB

+

Labels

The Owner

Foto saya
Seorang laki-laki yang baru belajar menulis

Blogroll

About