
Sumber foto: www.sschurchofchrist.org
Tidak ada satupun di dunia ini yang tidak pernah tidak bergerak. Semua berputar dari titik satu ke titik yang lain. Begitu mengalir seperti air, begitu ringan seperti debu yang terbawa oleh angin. Dan begitu cepat hilang seperti pucuk api di atas bara perapian. Satu gerombolan gajah liar pun senantiasa berpindah dari suatu padang ke padang yang lain tatkala musim kemarau tiba, hanya untuk mencari setetes air pelepas dahaga.
Detik jam dinding kuno di kamarku pun terus berputar, dan baru akan berhenti ketika baterainya sudah habis. Namun, mengapa justru otak ini yang malah berhenti? Di antara semua sisi dunia terus bergerak dan berputar? Terus berlari tanpa lelah sepanjang hari tanpa pernah mau kembali ke masa sebelumnya? Sedangkan imaji yang ada di otak ini justru sangat bertolak belakang. Sangat tidak beraturan, terkadang dapat melompat 2-3 langkah ke depan, terkadang justru berhenti di tempat, atau sempat beberapa waktu lalu mundur tiga langkah ke belakang.
Pernah suatu hari, Aku merasa bahwa semuanya sempat berhenti sesaat, tak ada yang bergerak sama sekali. Semuanya terdiam, tak ada yang berbicara sepatah kata pun, bergerak sedikit pun, bahkan bernapas pun tidak sama sekali. Semuanya tampak mematung, tak berkedip, terdiam pada tempatnya masing-masing. Begitu hening, sunyi, tenang dan membisu. Bahkan jam dinding kuno itu pun tidak mampu menggeser jarumnya sedetik pun.
“Kenapa semua terdiam dan membisu seperti ini?,” tanyaku dalam hati.
“Sudah bosankah semua isi dunia untuk selalu bergerak dan berubah? Sudah lelahkah mereka semua dengan kedinamisan yang senantiasa begitu fluktuatif?,” tanyaku tak habis pikir
“Lalu, apa untungnya mereka semua terdiam? Apakah ini sebuah pemogokan masal yang biasa terjadi di pabrik-pabrik yang selalu dipenuhi oleh buruh-buruh yang bisa dibayar murah? Atau ini merupakan sebuah kelelahan mereka terhadap perjalanan waktu?,” pikirku.
Pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah mau berhenti akan kebingungan ini terus mendesakku. Seumur hidupku belum pernah mengalami keanehan ini. Semua berhenti, bahkan kerikil jalanan yang terhempas oleh ban mobil angkutan umum itupun tampak dengan jelas seperti berhenti di udara. Air di pancuran itu pun seperti membeku, tak bergerak sama sekali.
Tidak biasanya kota ini seperti ini. Benar-benar 180 derajat berkebalikan dari biasanya.
“Hay….Kenapa semuanya diam…?,” teriakku sekuat tenaga. Tapi, jangan ‘kan ada yang menjawab teriakanku tadi, malah gema yang senantiasa bersautan dari kejauhan.
“Bisu ‘kah kalian? Kenapa semuanya malah mematung? Apakah kalian tidak bekerja hari ini?,” Teriakku untuk kedua kalinya. Lagi-lagi tidak ada yang menjawab teriakanku lagi. Kota yang biasanya begitu sibuk, berisik, dan memuakan kini berubah menjadi senyap dan bahkan mengerikan. Tak ada interaksi sesama manusia di sini. Mereka mematung, dalam bentuk terakhir dari aktivitas mereka. Ada yang sedang mengetik di ruang kantornya, ada yang sedang memberhentikan taksi di jalan, bahkan ada yang senang berlari mengejar angkutan kota.
Sudah tiga jam aku berputar-putar di kota ini, dari gedung ke gedung, jalan ke jalan, Mal ke mal, tak ada satu benda pun yang bergerak. Bahkan matahari pun seperti berhenti tepat di atas kepalaku. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Namun terkadang menyenangkan dengan kondisi seperti ini, ketika hiruk pikuk kota yang mengerikan berhenti sejenak. Ketika semua pekerja berhenti sebentar dari rutinitas yang memuakan. Begitu menyenangkan membuat semua ini dapat terwujud.
Tepat di depanku ada seorang gadis cantik, dengan stelan kemeja kantor yang sangat serasi dengan lekuk tubuhnya. Wangi parfumnya pun sampai tercium dari jarak yang cukup jauh. Dengan rambut yang tidak begitu panjang, senyumnya tanpak begitu manis setiap pagi kala bertemu di depan pintu kantor yang memang kebetulan biasa bertemu.
Dia begitu sederhana, begitu tenang, bahkan begitu sunyi bagi diriku yang sudah cukup lama mengenalnya. Semisal dia sadar saat ini, mungkin situasi membisu ini akan sangat menyenangkan bagi dia. Dan begitu juga diriku, kenapa kenikmatan ini hanya aku yang merasakan? Gadis cantik itupun seharusnya berhak untuk merasakannya, gadis yang memang senantiasa mencari sunyi yang telah pergi dari kota yang berisik.
Depok, 6 September 2008, 23.25 WIB
Sabtu, 13 September 2008

Matahari tepat di atas kepalaku, debu-debu jalan bercampur dengan hawa panas ini begitu menusuk napasku. Kerikil jalan beraspal hitam itu beterbangan karena polah mesin lusuh yang sedang mengejar nafsunya. Rerumputan sudah tak hijau lagi, got-got telah mengering, penuh sampah dan sangat menjijikan. Aroma bau busuk mengiringi perjalananku melintasi lembah penderitaan yang sebentar lagi akan dipenuhi oleh pengemis-pengemis yang terus saja bertambah di tempat itu.
Aku sudah tidak dapat lagi melihat keindahan di tempat ini, hanya ada bangunan-bangunan tua, yang dihiasi tulisan-tulisan penuh kemuakan terhadap pemerintah. Corat-coret anak muda tentang idola-idola mereka, dan poster-poster tuan pejabat korup yang saat ini sedang meminta belas kasiha kepada rakyat untuk memilihnya.
Setiap hari aku harus melewati jalan ini. Jalan yang sudah lama tidak diperhatikan lagi oleh orang-orang sekitar, yang telalu sibuk dengan kebutuhannya masing-masing.
Tepat pukul satu siang Aku harus kembali ke pompa bensin itu lagi, untuk melakukan kegiatan sehari-hari sebagai buruh operator pompa bensin. Tak habis pikir Aku menjalaninya, bau bensin yang begitu menyengat, deru mesin-mesin beroda yang amat bising, dan panas matahari yang saban hari tidak pernah mau mengampuniku barang sedikit pun untuk memberikan kesejukan.
Betapa bahagianya kupikir, jika saja Aku yang berada di dalam sebuah mobil mewah itu. Mobil dengan pendingin ruangan yang membuatku dapat tertidur lelap di dalamnya. Dengan kursi besar nan empuk serta aroma harum yang begitu menyenangkan dan kemudian membeli bensin di pompa bensin ini. Mungkin itu hanya sebatas mimpi bagiku.
Rutinitas ini begitu menjemukan, seorang buruh yang hanya mampu menghidupi dirinya sendiri, dan tinggal bertiga dalam sebuah kotak yang luasnya tak lebih dari dua kali tiga meter. Mungkin ini memang sudah menjadi jalan hidupku. Terkadang Aku bingung dengan teman-teman sesama buruh yang bekerja di pabrik sebelah itu. Mereka begitu gigih memperjuangkan –yang katanya—hak-hak mereka. Padahal kita tahu, untuk saat ini kita benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa.
Misbakhul misalnya, begitu bersemangat saat mengajak teman-teman yang lain yang kebetulan sekontrakan denganku untuk melakukan demontrasi yang katanya lagi untuk kesejahteraan kita. Namun beberapa bulan kemudian dia tidak dipekerjakan lagi dengan alas an yang bermacam-macam. Kemudian berlanjut ke teman-teman dekatnya, lalu seiring berjalannya waktu tak terdengar lagi demontrasi-demontrasi seperti waktu itu.
Tuhan, kebingunganku bukan tanpa alasan, Aku tidak ingin menjadi susah saat sudah susah. Sudahlah, Aku terima nasib ini, Aku tidak mau melakukan apa-apa lagi. Kecuali tuan-tuan pejabat kita yang terhormat mau sedikit bersusah-susah memikirkan nasib kelas bawah seperti Aku ini. Doni, teman sekamarku, tak pernah mau menerima nasih sebagai buruh murah.
“Jon, kamu gak boleh pasrah sama nasib mu yang hanya seorang buruh pompa bensin. Kamu harus berjuang demi hidup kamu. Supaya bisa hidup layak sebagai manusia!” Dengan berapi-api Doni menasehatiku.
“Bukannya Aku menyerah pada nasib, tapi hmm…, Aku ikhlas dengan apa yang telah Aku dapatkan,” jawabku.
“Pemikiran seperti inilah yang membuat orang kelas bawah seperti kita gak akan pernah naik kelas, mentalisme kuli!,” bentaknya.
“Yah tapi, hmm…, habis mau bagaimana lagi? Sudah untung Aku bisa makan dan minum serta masih punya tempat berteduh. Tapi mungkin kau pun ada benarnya Don, tapi hmm…, Aku tidak apa-apa seperti inilah,” kilahku tanpa bermaksud melawannya.
“Itu hakmu untuk berpendapat dan memiliki keputusan seperti itu, tapi Aku yakin kau pun sebenarnya juga memiliki mimpi-mimpi besar. Dan Aku yakin bahwa Aku akan mampu menggerarakan teman-teman untuk membela hak-haknya yang tertindas dan mengejar mimpi-mimpi mereka,” jawabnya lantang dan keras.
Setelah pembicaran itu Aku semakin mengenal Doni. Ia mulai membaca buku-buku tebal, selebaran-selebaran aneh yang susah Aku cerna. Doni mulai jarang pulang dan sangat sibuk dengan urusan-urusan anehnya, ditambah lagi ia sering lembur untuk menambah setoran kredit motornya yang belum lunas. Sudah hampir dua bulan Doni tidak pulang, Aku dan Ijul semakin cemas, pakaiannya masih penuh di lemari. Buku-buku barunya masih tersusun rapih di rak dekat televisi, namun tidak ada tanda-tanda dia akan pulang.
Hujan di luar jendela, pergantian musim telah dimulai. Rerumputan mulai tumbuh lagi, tanah merah yang selama ini retak dan kering kini becek dan membuatku harus memakai kantong plastik untuk membungkus sepatuku agar tidak kotor. Got-got yang kemarin kering, sekarang penuh oleh air keruh yang sebentar-sebentar terhenti alirannya oleh sampah yang mengapung di pinggirnya. Rintik air hujan yang terus membenturkan dirinya pada seng-seng berkarat yang telah setia melindungiku selama ini, kini semakin deras dari hari-hari kemarin.
Hujan di luar jendela, hingga tidak ada lagi hujan di luar jendela aku belum bertemu dengan Doni sahabatku, teman satu kontrakanku. Sedang apa ia sekarang? Sibukkah? Atau justru ia lupa dengan tempat kontrakannya? Aku tak habis pikir, untuk apa ia pergi selama ini tanpa memberitahu kami, tanpa membawa barang-barangnya yang masih tertinggal di kontrakan. Atau mungkin ia sudah bertemu dengan tuan pejabat di kelas atas dan bersenang-senang dengan mimpinya tanpa mengajak kami yang hanya memiliki mentalisme kuli?
Depok, Midnite July 2006
Sumber foto: Wordpress.com
Latest Post
Sabtu, 06 September 2008
Mencari Sunyi yang Telah Pergi
Mencari Sunyi yang Telah Pergi


